
Hidup di usia senja seharusnya bisa dinikmati dengan tenang, tetapi Mbah Sumarni yang kini berusia 69 tahun justru masih harus berjuang setiap hari. Sudah belasan tahun beliau berjualan teh, jamu, kopi, serta gorengan untuk mencukupi kebutuhannya. “Namanya juga hidup, Nak, selama masih bisa berusaha, Mbah bakal terus jualan,” ucapnya sambil tersenyum, meski kelelahan terlihat jelas di wajahnya.
Namun, kenyataan sering kali tidak seindah harapan. Setiap hari, Mbah Sumarni mendorong gerobaknya yang sudah usang di sepanjang jalan. Tubuhnya yang renta seakan tak lagi peduli dengan rasa lelah demi mendapatkan rezeki halal. “Mbah udah biasa capek, Nak, yang penting bisa makan dan tetap bertahan,” ujarnya.

Tidak semua hari membawa keberuntungan. Terkadang dagangan Mbah laku, terkadang juga tidak. Bahkan, modal untuk berjualan pun sering kali terbatas. “Mbah cuma bisa jual kopi sedikit, Nak, karena belum ada modal lebih,” katanya dengan suara lirih. “Mbah jualan kecil-kecilan, untung cuman dikit, sering ada yang ngutang dulu” isak Mbah sedih. Meski begitu, Mbah tetap semangat, berusaha bertahan meski dagangan tidak selalu habis terjual.
Beban hidup yang dipikulnya tak ringan, tetapi Mbah Sumarni tetap mencoba tersenyum. Sambil duduk di pinggir jalan, beliau menatap dagangannya yang masih tersisa, berharap ada pembeli yang datang. “Kalau laku, Alhamdulillah. Kalau enggak, ya Mbah makan seadanya aja,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Namun, tidak pernah sekalipun Mbah mengeluh atau menyerah.
Dalam sehari, keuntungan yang didapatnya hanya sekitar 20-30 ribu rupiah, jumlah yang sangat kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski begitu, Mbah selalu percaya pada takdir Tuhan.“Mbah selalu berharap ke Allah, tugas Mbah hanya berdoa dan ikhtiar, sisanya Mbah serahkan ke Tuhan Yang Maha Esa nak.” katanya penuh harapan. Baginya, selama masih bisa berikhtiar, rezeki pasti akan datang dengan caranya sendiri

Mbah yang setiap berjalan untuk berdagang, Mbah sering sakit di bagian kaki. “Kaki Mbah sudah bengkok di bagian jempol nya. Tapi ga berobat” ucap mbah sambil tunjukan kakinnya. Di Keadaan ini Mbah berpikiran untuk tidak berobat saja, selama masih tidak parah dikarenakan biaya yang ada mending dipakai untuk makan. Hal yang paling sedihnya pula Mbah tinggal sendiri dirumahnya.
#SobatBaik, Mbah Sumarni menjadi contoh bagi kita semua bahwa ketegaran dan kesabaran harus selalu diaplikasikan kepada hidup kita,walau banyak masalah dan beban yang harus dihadapi. Jika ada modal mbah ingin sekali bisa menambah variasi jualannya dan juga ingin mengganti gerobaknya ke yang lebih layak lagi. Yuk bantu wujudkan keinginan Mbah Sumarni untuk bisa meraih kesejahteraan di hari tuanya!!

Kantor Yayasan Diferensia
Jl. Gunung Batu No. 57B 02/09 Kel. Sukaraja Kec. Cicendo Kota Bandung Jawa Barat 40175
Informasi & Konfirmasi Donasi
081389007600
Izin Lembaga Kesejahteraan Sosial
Izin LKS Kota Bandung: TU.01.02/1158-Dinsos/III/2022
Izin Provinsi Jawa Barat: 062/147/PPSKS/2022
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik