

Ingin membawa perubahan bagi hidup seseorang tapi bingung memulai darimana?
Yuk, memulai dari hal yang sederhana dan simak kisah haru dan isnpiratif dari sahabat disabilitas yang ada disekitar kita!
#sahabatSAPA bisa membawa perubahan bagi adik-adik dan para pejuang nafkah disabilitas melalui inisiatif program Sarana Pemberdayaan Disabilitas #SAPADISABILITAS

Hidup dengan kondisi fisik yang tidak sempurna, tentu tidaklah mudah. Selain harus ikhlas menerima sikap pandangan mata yang sinis, cemoohan dari berbagai penjuru hingga dipandang sebelah mata.

Bagi Para Disabilitas muda tantangan terberat mereka ialah menjalani kehidupan, meraih cita-cita serta sulitnya lowongan pekerjaan untuk disabilitas sehingga pada akhirnya mereka hanya bekerja seadanya dengan kemampuan yang terbatas walau penghasilannya sangat kecil dan jauh untuk mengejar mimpi, keinginan dan harapan dimasa depan.

Beda halnya dengan disabilitas dewasa atau lansia, mereka mungkin sudah terbiasa dan membiasakan diri dengan derasnya ujian hidup yang mungkin hal terberatnya sama tidak bisa membahagiakan secara lebih orang-orang yang ia saying, bahkan ada kegiatan yang bisa dilakukan juga sudah bersyukur dapat menafkahi keluarga tercinta.
Ada Abah Abon, Kang Cepi, Kang Wahyu serta Adik Nabila yang kini harus tetap berjuang ditengah keterbatasan yang mereka miliki! Dengan berbagai keterbatasannya akibat sakit berujung diamputasi, kini mereka harus membiasakan diri dengan kondisi fisik yang tidak lagi semburna.

“Terkadang saya merasa sedih, karena hanya bisa bekerja seperti ini, sebagai penjual dagang asongan. Kebutuhan istri dan anak-anak saya sering tidak terpenuhi karena upah saya tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka. Namun saya harus sabar, saya harus bekerja lebih rajin lagi agar anak-anak saya bisa tetap makan serta pendidikannya tetap berjalan meski dengan kondisi saya yang seperti ini…”, lirih Abah Abon.
Perjuangan Abah Abon yang saat ini berusia 54 tahun, seorang difabel untuk bisa bertahan hidup ini sungguh menyayat hati. Bagaimana tidak? Dengan kondisi tubuhnya yang sudah renta yang tidak sempurna akibat kecelakaan bekerja 20 tahun kebelakang, beliau masih harus banting tulang, mencari nafkah agar pendidikan anaknya serta kebutuhan untuk istrinya terpenuhi

Abah Abon harus ikhlas ketika kecelakaan hebat yang dialaminya 25th yang lalu merenggut kedua tangan beliau bahkan saat itu kritis selama 3 minggu dan hampir merenggut nyawa. Pekerjaan beliau saat itu sebagai buruh diesel penngiling padi, terpaksa beliau hentikan karena tubuhnya sudah tak mampu lagi memikul barang yang akan digiling sehingga sejak saat itu, Abah Abon harus banting setir, menjadi seorang Pedagang Asongan disalah satu pom bensin yang ada di kabupaten Garut.
Meski upahnya dalam sehari tak bisa mencukupi kebutuhan harian keluarganya, Abah Abon mencoba ikhlas dan bersyukur masih bisa terus berjuang dan istrinya masih setia menemaninya hingga saat ini. Beliau berjanji kepada dirinya sendiri, akan terus berusaha dan bekerja sekuat tenaganya sampai anak-anaknya bisa makan dan terus menimba ilmu.

“Cuma ini yang bisa saya lakukan dengan kondisi saya yang seperti ini. Meski tidak sempurna, saya tidak mau mengharapkan belas kasih orang. Selama saya masih bisa bekerja, saya akan terus bekerja”, ucap Abah Abon.
Selain Abah Abon, ada juga Kang Chepi 35 tahun yang bernasib serupa. Ia telah kehilangan kaki kirinya akibat tumor ganas yang menyerangnya di tahun 2022 lalu. Mirisnya, disaat ia tengah berjuang melawan tumor ganas itu, ia juga harus kehilangan sang Ayah untuk selama-lamanya akibat sakit keras yang dideritanya.

Awalnya, Kang Chepi hidup normal seperti orang-orang pada umumnya. Tiba-tiba, di kaki kirinya mulai muncul benjolan yang mengganas dengan cepat dan membuat kaki kirinya luka-luka seperti melepuh. Dengan sisa tabungan dan barang berharga yang dimiliki, Kang Chepi berusaha menjalani pengobatan ke RS terdekat. Sayang, pengobatan beliau terpaksa berhenti karena terkendala biaya.

Nahas, hampir setengah tahun menjalani pengobatan mandiri seadanya di rumah, dokter bilang bahwa tumornya semakin ganas dan harus dilakukan amputasi agar tumornya tidak semakin menyebar ke organ-organ lainnya!
Kini, dengan sebelah kakinya, Kang Chepi masih harus berjuang mencari nafkah untuk menafkahi Neneknya yang sudah renta. Hampir setiap malam, Kang Chepi duduk di teras rumahnya, berdoa kepada Allah supaya selalu diberi rezeki agar bisa terus berjuang untuk sang Nenek.

Beda halnya dengan Abah Abon dan Kang Chepi yang mungkin sudah terbiasa menjalani beratnya kehidupan, terutama didunia pekerjaan!
Kisah pilu yang harus dihadapi oleh #sahabatsapa lainnya yaitu Kang Wahyu, yang mana saat ini usianya 28 tahun hampir seumur hidupnya kebahagiaannya di renggut oleh penyakit yang belum ada obatnya yaitu filariasis atau kaki gajah akut.

Saat memasuki Sekolah Dasar kelas 3 Kang Wahyu terdeteksi idap Filariasis atau kaki gajah akut yang mana saat itu pemerintah setempat bergegas melakukan seprot fogging mengingat filarisis ini disebabkan oleh nyamuk yang sudah mengandung sel telur cacing filaria yang dpat menymbat pembuluh darah manusia serta diamnya di area limpa manusia sehingga saking kecilnya ukuran cacing ini sulit diobati bahkan akhirnya wahyu di amputasi di bulan april 2025.

Pengobatan rutin yang dimulai sejak 2019 hingga 2025 membuat Wahyu sudah pasrah akan keadaan yang tadinya belum siap di amputasi, karena bobot kaki gajahnya yang mencapai 30Kg lebih akhirnya di tahun 2025 Wahyu sendiri yang minta di amputasi karena ingin berkatifitas dan bisa bekerja menggantikan orang tuanya yang sudah lanjut usia.

Ditengah perjalan pengobatan sang ayah sering sakit-sakitan dan wafat saat usianya menginjak 80 tahun, sehingga kini keinginan wahyu ingin segera bisa selesai berobat dan bisa menghasilkan usaha agar bisa membahagiakan Mak Rusinah yang kini sudah sangat renta karena lanjut usia. Walapun hingga saat ini Mak Rusinah masih aktif melakukan kegiatan membuat sapu lidi yang ia jual keliling untuk menghidupi keluarga kecilnya tersebut.

“Saya mah hanya ingin bekerja menggantikan Emak atau ada Usaha lain. Saya nangis tiap kali melihat mak mikul sapu lidi buat dijual keliling kampung” Ucap Wahyu
Selain Kang Wahyu, ada adik Nabila Klaudia juga yang kini nasibnya hampir serupa. Dimana kini kaki kananya kini harus direlakan akibat kanker ganas yang di idapnya bahkan karena terlambat berobat karena kehabisan biaya kanker tersebut merambat ke organ dalam lainnya.

10 bulan yang lalu adik Nabila baru kehilangan sang ayah yang tidak tertolong akibat sakit jantung. Luka kehilangan cinta pertama anak perempuan ini belum pulih kini masa depannya juga terancam musnah akibat hilangnya kepercayaan diri buntut tindakan amputasi bulan September 2025 lalu.

Padal Cita-cita Adik Nabila ini sangat mulia yakni ingin menjadi dokter agar bisa membantu orang yang sakit dan jangan sampai tidak tertolong seperti sang ayah. Kini adik Nabila masih menjalani pengobatan di RS khusus Kanker Nasional di Jakarta Pusat di damping oleh sang ibu yang berpropesi sebagai buruh pembungkus kerupuk.

Adik Nabila harus melakukan kemoterapi sebanyak 25 siklus, belum juga menatap masa depan, kini kemoterapinya tersebut terancam terhambat akibat kehabisan biaya bahkan harta satu-satunya yang tersisa hanyalah rumah yang ditempati oleh adik Nabila, itupun sudah digadaikan sebesar 8 Juta Rupiah kepada tetangganya.
Sahabat, kisah Abah Abon, Kang Chepi, Kang Wahyu dan adik Nabila menjadi pukulan serta menjadi ajaran bagi kita semua tentang apa artinya bersyukur. Di tengah keterbatasan yang mereka miliki, mereka masih harus berjuang untuk bisa terus menyambung hidup bahkan bertahan hidup.

Dengan kondisi tubuh kita yang masih lengkap dan normal, maukah kita dukung mereka para disabilitas lainnya untuk bisa terus berjuang? Yuk sama-sama kita sedikit berbagi kebahagiaan untuk mereka, dengan cara:
1. Klik "DONASI SEKARANG"
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran
4. Ikuti instruksi untuk menyelesaikan pembayaran
5. Dapatkan laporan melalui email
Tak hanya berdonasi secara materi, #sahabatsapa juga bisa membagikan halaman galang dana ini agar lebih banyak lagi tangan-tangan malaikat mengiringi perjuangan mereka.

Terima kasih, #sahabatsapa
Disclaimer : informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik