

Di sebuah kampung sederhana, suara anak-anak mengaji pernah menjadi penanda sore hari. Suara itu dulu dipandu oleh seorang lelaki bersahaja bernama Ustadz Saepudin (37). Dengan suara lembut dan kesabaran yang tak pernah habis, ia mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur’an kepada anak-anak kampung—tanpa memungut bayaran, tanpa berharap imbalan. Baginya, mengajar mengaji adalah ibadah dan amanah hidup.

Namun kini, suara itu nyaris tak terdengar. Bukan karena ia berhenti mencintai anak-anak didiknya, melainkan karena tubuhnya sedang berjuang untuk bertahan hidup.

Selain menjadi guru ngaji, Ustadz Saepudin juga bekerja sebagai buruh tani. Penghasilannya tidak menentu, bergantung pada musim dan tenaga yang ia miliki. Dari hasil itulah ia menghidupi keluarganya dan tetap bisa menyisihkan waktu untuk mengajar anak-anak di kampungnya. Hidupnya sederhana, tapi penuh makna—hingga sebuah ujian besar datang menghantamnya bertubi-tubi.

Sudah delapan bulan terakhir, Ustadz Saepudin terpaksa meninggalkan rumah dan kampung halamannya. Ia harus tinggal di rumah singgah, jauh dari keluarga dan murid-muridnya, demi menjalani serangkaian pengobatan dan operasi. Dari lima proses operasi yang harus ia jalani, tiga operasi sudah dilalui, dan sisanya masih menunggu waktu dan biaya.

Kondisi yang ia alami sungguh berat. Saat ini, Ustadz Saepudin harus buang air besar dan buang air kecil melalui perutnya menggunakan alat kolostomi. Bekas sayatan operasi sepanjang kurang lebih 25 sentimeter terlihat jelas membelah bagian tengah perutnya. Di sisi kanan dan kiri perutnya, terdapat lubang pembuangan kotoran yang harus dirawat setiap hari dengan alat medis khusus.

Rasa sakit fisik itu belum seberapa dibandingkan beban batin yang ia rasakan. Selama delapan bulan ini, ia tidak bisa bekerja sama sekali. Tidak ada penghasilan. Tidak ada kepastian kapan ia bisa kembali sehat dan mencari nafkah. Sebagai seorang kepala keluarga dan guru ngaji, kondisi ini membuatnya terus diliputi rasa khawatir dan gelisah.
Ia khawatir pada keluarganya di rumah. Ia khawatir pada kebutuhan sehari-hari yang terus berjalan. Ia khawatir tak bisa kembali berdiri di sawah sebagai buruh tani. Dan yang paling menyayat hati, ia khawatir tak bisa kembali duduk di hadapan anak-anak kampungnya untuk mengajarkan Al-Qur’an seperti dulu.
Jika tidak dibantu, perjuangan Ustadz Saepudin akan semakin berat. Proses pengobatan dan operasi lanjutan bisa terhambat. Perawatan kolostomi yang membutuhkan biaya rutin berisiko terhenti. Dan tanpa penghasilan, keluarganya terancam berada dalam kondisi yang semakin sulit. Pemulihan yang seharusnya fokus pada kesembuhan, justru bisa berubah menjadi tekanan yang melemahkan fisik dan mentalnya.
Padahal, di balik tubuh yang lemah itu, ada niat besar untuk kembali mengabdi. Ustadz Saepudin hanya ingin sembuh. Ia ingin kembali bekerja, kembali mengajar, kembali hidup sederhana namun bermakna. Ia tidak meminta lebih—hanya kesempatan untuk pulih dan melanjutkan hidupnya.
Hari ini, kita bisa menjadi bagian dari ikhtiar kesembuhannya. Uluran tangan kita dapat membantu biaya pengobatan dan operasi lanjutan, perawatan alat kolostomi, kebutuhan hidup selama masa pemulihan, serta meringankan beban keluarganya yang kini kehilangan satu-satunya tulang punggung.
Rp 50.000: Paket Perawatan Kolostomi (1 Hari).
Rp 150.000: Biaya Hidup di Rumah Singgah (3 Hari).
Rp 500.000+: Patungan Biaya Operasi Lanjutan.
📣 Sahabat Kebaikan, mari kita bantu Ustadz Saepudin bangkit kembali.
Karena guru ngaji yang telah menanamkan kebaikan pada banyak anak, layak mendapatkan pertolongan saat ia terjatuh.
💛 Klik DONASI SEKARANG untuk membantu pengobatan Ustadz Saepudin
💛 Bagikan cerita ini agar semakin banyak orang tergerak
💛 Jadilah bagian dari amal jariyah yang pahalanya terus mengalir
“Ketika seorang guru jatuh sakit, bukan hanya tubuhnya yang lemah—ilmunya pun terhenti. Mari kita bantu agar cahaya itu kembali menyala.”
📌 Disclaimer Penggunaan Dana:
Dana donasi yang terkumpul akan dikelola secara amanah, adil, dan transparan oleh Yayasan Ruang Kebaikan Indonesia untuk membantu biaya pengobatan dan operasi lanjutan Ustadz Saepudin, perawatan medis dan alat kolostomi, kebutuhan hidup selama masa pemulihan, serta kebutuhan pendukung lainnya. Apabila terdapat kelebihan dana, maka akan disalurkan kepada penerima manfaat lain di bawah naungan Yayasan Ruang Kebaikan Indonesia. Informasi dan konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
Karena hari ini, doa dan bantuan Anda bisa menjadi alasan Ustadz Saepudin kembali berdiri—dan kembali mengajarkan kebaikan kepada generasi berikutnya.
![]()
Belum ada Fundraiser