

Di kampung ini, malam datang bersama kegelapan. Belum ada listrik yang masuk, sementara satu-satunya tempat ibadah masih berupa bangunan papan sederhana. Saat hujan turun, warga bahkan harus menggulung tikar agar tidak terkena tampias air. Namun, keterbatasan itu tak membuat mereka berhenti bersujud.

Di Dusun Sagu-sagu, Desa Lukit, Kepulauan Meranti, terdapat sekitar 35 masyarakat muslim, termasuk beberapa mualaf, yang selama ini beribadah di musholla semi permanen. Sebagian besar warga bekerja sebagai petani sagu dengan penghasilan terbatas. Untuk penerangan, mereka hanya mengandalkan pelita atau mesin dongfeng yang biasanya harus dimatikan sekitar pukul 10 malam. Bahkan, anak-anak dan masyarakat di kampung ini belum memiliki tempat yang layak untuk belajar membaca Al-Qur’an.

Bagi mereka, musholla ini bukan hanya tempat untuk shalat. Ini adalah tempat untuk menjaga iman, belajar agama, dan menjadi ruang tumbuh bagi generasi berikutnya. Karena itu, mereka bermimpi memiliki Musholla At-Taqwa yang lebih layak, lengkap dengan panel surya sebagai sumber listrik mandiri agar lampu, azan, kegiatan mengaji, dan kebutuhan air dapat tetap berjalan meski listrik belum menjangkau kampung mereka.

Mari bersama Relawan Mulia hadir untuk warga Dusun Sagu-sagu. Bantu wujudkan tempat ibadah yang lebih aman, nyaman, dan terang bagi mereka yang terus menjaga iman di tengah keterbatasan. InsyaAllah, setiap sedekah yang diberikan menjadi bagian dari cahaya yang menerangi rumah ibadah dan menjaga semangat belajar Islam di pelosok Kepulauan Meranti.
Disclaimer: Apabila dana yang terkumpul melebihi target kebutuhan program, kelebihan dana akan dialokasikan untuk mendukung program kesehatan dan kemanusiaan lainnya yang membutuhkan.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik