

“Mang Agus Tak Pernah Menyerah, Meski Harus Menyeret Tubuh Demi Nafkahi Istri Tercinta”
Di sebuah pelosok sunyi Desa Bambung Kai, jauh dari gemerlap kota dan hiruk pikuk kehidupan modern, hiduplah seorang pria sederhana bernama Mang Agus (45 tahun). Sejak lahir, ia hidup dengan kondisi disabilitas. Kedua tangan dan kakinya tidak tumbuh sempurna seperti kebanyakan orang.

Namun keterbatasan itu tak pernah membuat Mang Agus menyerah pada hidup.
Delapan tahun lalu, ia menikahi perempuan yang sangat dicintainya, Wati (39 tahun). Sang istri pun hidup dalam keterbatasan. Wati mengalami tuna netra dan pendengarannya tidak berfungsi dengan sempurna. Hingga hari ini, mereka belum dikaruniai anak. Di rumah kecil berukuran 3x7 meter peninggalan orang tuanya yang mulai rapuh dimakan usia, keduanya saling menguatkan dalam sunyi dan kekurangan.
Lantai rumah mereka masih terbuat dari kayu tua. Sebagian tiang rumah mulai lapuk. Saat hujan turun, rasa khawatir selalu menyelimuti. Meski sederhana, rumah itu menjadi saksi perjuangan cinta dua insan disabilitas yang bertahan hidup dengan penuh keteguhan.

Setiap hari, Mang Agus berjuang mencari nafkah dengan berjualan kopi panas di sekitar tempat wisata. Dengan modal seadanya, ia membawa termos dan perlengkapan jualannya menggunakan wadah kecil yang digantung di tubuhnya.
Karena kedua kakinya tidak mampu menopang badan, Mang Agus harus berjalan dengan cara menyeret tubuh menggunakan kedua tangannya yang juga tidak sempurna.
Bayangkan…
Di saat banyak orang mengeluh karena lelah bekerja, Mang Agus harus menggeser tubuhnya perlahan menyusuri jalan demi jalan, menempuh puluhan kilometer hanya untuk menjajakan segelas kopi hangat kepada wisatawan.
Tangannya lecet.
Tubuhnya sering sakit.
Namun semangatnya tak pernah padam.
Sebab di rumah kecil itu, ada seorang istri yang menunggu kepulangannya.

Penghasilan Mang Agus pun sangat kecil. Jika sedang ramai pembeli, ia hanya membawa pulang sekitar Rp25.000 per hari. Uang itu dipakai untuk makan, membeli kebutuhan sehari-hari, dan bertahan hidup bersama sang istri.
Meski hidup dalam serba kekurangan, Mang Agus masih menyimpan harapan besar.
Ia bermimpi memiliki motor khusus disabilitas agar bisa berjualan lebih jauh tanpa harus menyeret tubuhnya setiap hari. Dengan kendaraan itu, Mang Agus berharap waktu tempuhnya menjadi lebih singkat, tenaganya tidak cepat habis, dan dagangan kopinya bisa menjangkau lebih banyak pembeli.
Tak hanya itu, Mang Agus juga berharap ada tambahan modal usaha agar ia bisa membeli perlengkapan jualan yang lebih layak dan memperbesar penghasilannya demi kehidupan yang lebih baik bersama sang istri.
Hari ini, kita bisa menjadi bagian dari harapan Mang Agus.
Bantuan dari sahabat semua akan digunakan untuk:
• Pengadaan motor khusus disabilitas
• Tambahan modal usaha jualan kopi
• Kebutuhan hidup sehari-hari Mang Agus dan istrinya
• Perbaikan rumah sederhana yang mulai rapuh
Tak banyak yang diinginkan Mang Agus.
Ia hanya ingin hidup lebih mudah… agar tetap bisa bekerja dan membahagiakan istrinya dengan cara yang sederhana.

Yuk, bantu perjuangan Mang Agus.
Sedikit bantuan dari kita bisa menjadi harapan besar bagi mereka yang selama ini berjuang dalam keterbatasan. 🤍
Disclaimer : informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik