


Sosok Mak Manah yang tinggal sebatangkara di pelosok Karawang, tepatnya di Kampung Kutakarya, Kecamatan Kuta Waluya. Mak Manah mendapat santunan dari tetangga sekitar untuk makan sehari-hari.
“Emak sudah tidak punya apa-apa, rumah Emak roboh, sekarang sudah dibangun kembali oleh bantuan Pak Lurah”

Tidak ada yang membiayai Mak Manah secara utuh, anak pertama Mak Manah ikut tinggal bersama suaminya yang berprofesi sebagai tukang becak di tempat yang jauh, sedangkan anak bungsu Mak Manah menjadi TKW tetapi tidak pernah mengirimkan Mak Manah uang dan tidak pernah lagi mengunjungi Mak Manah.

Di saat tim mengajak Mak Manah mengaji, beliau melantunkan ayat-ayat Allah sambil berlinang air mata karena teringat kembali kepada Allah.
Mak Manah hanya salah satu dari sekian banyak lansia yang tidak bisa menikmati masa senjanya bersama hangatnya pelukan keluarga karena keterbatasan ekonomi. Ada lansia-lansia lain di pelosok negeri yang harus tetap berjuang di masa senjanya.

Seperti Mak Karsiti, yang tidak bisa melihat sedari lahir. Beliau tidak tahu seperti apa keindahan dunia, namun beliau tetap dapat mengenal Allah Ta’ala dengan baik. Mak Karsiti dapat dengan fasih melantunkan ayat-ayat Allah.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Mak Karsiti membuka jasa urut untuk warga di lingkungan sekitar. Keterbatasan tidak membuat beliau mengeluh tentang keadaan. Mak Karsiti tetap dengan gigih berjuang untuk melanjutkan hidup yang Allah karuniai.
...
Tidak semua lansia bisa menikmati masa senjanya dengan kehidupan yang nyaman dan terjamin. Masih banyak lansia seperti Mak Manah yang hidup sebatangkara dan Mak Karsiti yang masih bekerja mencari nafkah di hari tuanya.
Mari kita sedikit ringankan beban mereka dengan memberikan santuan kepada para lansia dhuafa dan hidup sebatangkara.