

Ibu Lina Marlina berusia 40 tahun yang saat ini tinggal di wilayah Kabupaten Cianjur mengidap penyakit tumor sejak tahun 2021 Massa retrobulbar OS e.c Susp. Meningioma dd lacrimal gland tumor OS dan saat ini sedang melakukan pengobatan di 2 rumah sakit yakni RS Cicendo Kota Bandung dan RSUP Dr.Hasan Sadikin Kota Bandung (RSHS Bandung).

Awalnya pada tahun 2021, ibu Lina saat sedang bekerja sering merasakan sakit kepala yang luar biasa yang mana saat itu ada dokter umum dipabrik menyebutkan itu hanya pusing-pusing biasa yang terjadi akibat kurang makan atau juga kecapean yang mana dokter hanya memberikan obat pereda nyeri. Namun semakin lama keadaannya bukan malah membaik tetapi malah semakin sakit kepala yang bertubi-tubi, bahkan seringkali penglihatan pudar.
Kondisi yang kian memburuk membuatnya harus keluar dari pekerjaan yang telah ia tekuni selama 20 tahun, dimana secara perlahan banyak keluhan yang begitu cepat mulai dari kondisi mata sebelah kiri semakin menonjol, bagian kepala yang kian membesar bahkan seakan mau pecah dan sakit yang tidak pernah beliau rasakan seumur hidup. Pengobatanpun mulai dilakukan berbekalkan uang pesangon selama bekerja Ibu Lina memberanikan diri berangkat berobat mulai dari puskesmas hingga ke Rumah sakit Umum di Kabupaten Cianjur.
“saya udah bingung dan sudah putus asa, Namun dikuatkan oleh anak saya. sehingga saya bisa semangat kembali”. ucap ibu Lina

Saat itu saya masih menggunakan biaya UMUM, karena BPJS dari perusahaan secara otomatis ditutup setelah berhenti bekerja yang mana saat itu beliau sangat berharap jika pengobatannya menggunakan UMUM mungkin akan lebih cepat, sebab baginya ada anak satu-satunya yang harus beliau besarkan sendiri dan setelah sembuh bisa bekerja kembali untuk menghidupi anaknya tersebut.
Berbagai pemeriksaan sudah dilakukan di RSUD Kabupaten Cianjur, namun karena keterbatasan alat harus dilakukan MRI kontras akhirnya ibu Lina dirujuk ke PMN RS Mata Cicendo Kota Bandung. Saat itu Ibu Lina meminta bantuan terhadap pemerintah setempat untuk dibuatkan BPJS Gratis, dikarenakan prosedurnya yang rumit sedangkan kondisi pengobatannya harus segera akhirnya beliau daftarkan BPJS berbayar dan saat ini sudah menunggak selama 1 tahun.

Dulu Ibu lina memberanikan diri berangkat ke kota Bandung dan sudah dilakukan pemeriksaan pemeriksaan mulai dari USG, rotgen, USG, LAB, EKG, MRI Kontras, sampai CT Scan Kontras bahkan sudah dilakukan tindakan operasi sebanyak 2 kali dengan total berobat di 3 Rumah Sakit, yaitu RS Mata Cicendo, RSN Santosa central serta SUP Dr.Hasan Sadikin Kota Bandung (RSHS) namun naas pengobatannya hanya berjalan selama 2 tahun akibat kehabisan biaya.
perjalanan pengobatan dari rumahnya ke Kabupaten Bandung memakan waktu 3 Jam, dengan biaya yang harus dikeluarkan minimal 400rb untuk transportasi saja, belum lagi untuk kebutuhan pengobatan selama berobat di Bandung, sedangkan beliau hanya mengandalkan bekal dari pesangon resign tersebut, terlebih saat itu masa pandemic covid19 sehingga banyak hambatan saat pengobatan.

Saat ini kondisinya semakin parah! Tadinya hanya mata yang menonjol keluar, sekarang ada pembekakan lagi dibagian belakang kepala serta dibagian leher. Naas ibu Lina terus melalui semua ini sendiri setelah sang suami sudah menikah lagi, bahkan saat beliau berobat ke Bandung, anak satu-satunya harus ia titipkan ke tetangganya dengan memberikan upah sebesar Rp.50.000,- perhari belum lagi perbekalan saat anaknya sekolah.
Saat ini penyakit ibu Lina seringkali kambuh, dimana hidung seringkali berdarah, pembengkakan dimana-mana bahkan dibekas operasi, seringkali terasa pusing, seringkali merasiakan sakit, nafas sudah terasa sesak, badan demam-demam, kalau keluar rumah sering kali keluar air mata, tangan sebelah kanan sudah tidak bisa diangkat dengan sempurna dan jika dipaksakan sakit, sehingga tidur pun sudah tidak bisa terlentang dengan baik, bahkan beliau seringkali tidak sadarkan diri! Pada bulan lalu beliau sempat dibawa tetangganya ke RS Cicendo untuk konsul secara umum karena BPJS beliau masih nunggak sebesar Rp.1.800.000,- akan tetapi ia tetap harus melanjutkan pengobatan di RSHS Kota Bandung jika tidak segera dapat mengancam nyawa ibu Lina karena pertumbuhannya sudah begitu cepat.
“Yaa Allah, begitu berat ujian ini! Hamba hanya manusia biasa, dengan ujian yang ada hamba percaya pasti ada jalannya sebab saya belum siap untuk mati, karena ada anak satu-satunya yang harus saya besarkan” ~ujar Ibu Lina
Pengobatan Ibu Lina sudah terhambat selama 2 tahun, bukan tanpa sebab uang pesangon sudah habis digunakan biaya berobat serta biaya transportasi selama pengobatan di RS Daerah hingga RS Provinsi bahkan selama tahun terakhir beliau harus merelakan rumah satu-satunya yang beliau bangun dari hasil saat bekerja di pabrik yang mana saat itu hanya laku sebesar Rp.40.000.000,- dan ternyata itu tidak cukup juga.
Kini hidupnya hanya bergantung pada nasib, tetapi bukan tanpa perjuangan! sehari-hari beliau bekerja sebagai buruh cuci piring di rumah yang kini ia tempati dimana tetangganya itu memberi upah sebesar Rp.30-40ribu perhari dan beliau di izinkan untuk tinggal bersama anaknya dirumah tersebut.
saat kami kunjungi, beliau sangat histeris menangis Bahagia karena akan ada yang membantu, walaupun kami juga belum bisa membantu secara maksimal. Ibu Lina selalu berkata bahwa penyemangat hidupnya hingga saat ini ialah sang anak, dan dengan keadaan yang demikian, beliau masih terus memikirkan masa depan anaknya bahkan jika beliau meninggal nanti kehidupannya akan seperti apa.
“karena anak sayalah saya masih kuat menjalani semua ini! semoga ada dermawan yang baik, yang siap membantu proses pengobatan saya”~Ujar Ibu Lina
Untuk itu harapan besar kami agar seluruh #sahabatsapa serta #OrangBaik dapat mendukung perjuangan ibu Lina untuk bisa meneruskan pengobatannya hingga sembuh.
Disclaimer : informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
![]()
Belum ada Fundraiser