

“Sofi dan Sifa: Dua Saudari Kembar, Satu Perjuangan yang Terlalu Berat untuk Usia Mereka”

Namanya Sofi. Ia adalah saudara kembar dari Sifa, gadis 17 tahun yang saat ini berjuang melawan kanker tulang dan kanker payudara. Di usia yang sama, hidup mereka berjalan di jalur yang sangat berbeda—Sifa berjuang mempertahankan hidupnya, sementara Sofi berjuang agar keluarganya tetap bisa bertahan.

Sifa telah kehilangan lengan kirinya akibat amputasi, dan hingga hari ini luka di pundak kirinya masih basah dan belum kering sepenuhnya. Kondisinya menuntut kemoterapi yang harus dilakukan secara rutin dan segera, karena kanker yang ia derita terus mengancam nyawanya. Setiap perjalanan ke rumah sakit bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga menguras tenaga, waktu, dan biaya.

Sejak kecil, Sofi dan Sifa tinggal bersama kakek dan nenek mereka. Kedua orang tua mereka merantau ke luar pulau demi mencari penghidupan, namun kondisi ekonomi yang sulit membuat mereka belum mampu banyak membantu. Maka, di usia sekolah menengah atas, Sofi tumbuh bukan hanya sebagai seorang siswi—tetapi juga sebagai penopang hidup keluarganya.

Sepulang sekolah, Sofi berjualan cilok atau bakso aci buatan tangannya sendiri. Ia meracik adonan, merebus, mengemas, lalu menjajakannya dari sore hingga malam. Baginya, satu hal yang paling penting adalah jualannya harus habis, karena setiap porsi yang terjual berarti ongkos berobat, ongkos perjalanan ke rumah sakit yang jaraknya jauh, serta makanan untuk Sifa keesokan harinya.

Dalam beberapa waktu terakhir, Sofi sering harus mengorbankan sekolahnya. Saat Sifa harus kontrol atau menjalani kemoterapi, Sofi memilih menemaninya ke rumah sakit. Ketidakhadirannya di sekolah kian sering, dan kekhawatiran mulai menghantui—takut tertinggal pelajaran, ditegur, bahkan harus berhenti sekolah karena kondisi yang tak memungkinkan.
Ada malam-malam ketika Sofi masih berjualan hingga larut, menahan lelah dan kantuk, demi memastikan Sifa tidak kekurangan apa pun. Ia adalah seorang kakak, saudara kembar, sekaligus tulang punggung kecil yang memikul beban terlalu besar untuk usianya. Ia tidak mengeluh. Ia hanya terus berjalan, karena ia tahu Sifa sangat bergantung padanya.
Inilah yang membuat kisah Sofi dan Sifa begitu menyentuh: dua remaja yang seharusnya memikirkan masa depan, kini sibuk bertahan hari demi hari. Yang satu melawan kanker, yang satu melawan keadaan. Mereka tidak meminta kemewahan—mereka hanya ingin kesempatan untuk sembuh dan tetap bersekolah.
Hari ini, kita bisa membantu meringankan langkah Sofi. Donasi yang Anda berikan akan digunakan untuk kebutuhan operasional Sifa selama pengobatan, termasuk transport ke rumah sakit, makanan bergizi, dan kebutuhan harian lainnya—agar Sofi tidak harus terus mengorbankan pendidikannya.
🙏 Klik DONASI SEKARANG.
Bantu Sofi tetap bersekolah.
Bantu Sifa tetap berjuang.
Satu kebaikan dari Anda bisa menjadi alasan mereka untuk terus bertahan.
📜 Disclaimer:
Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu kebutuhan operasional dan kehidupan sehari-hari Sifa selama proses pengobatan (non-medis), termasuk makanan, transport, dan kebutuhan pendukung lainnya. Apabila terdapat kelebihan dana, sebagian akan digunakan untuk membantu penerima manfaat lain yang membutuhkan sesuai kebijakan lembaga pengelola donasi.
Informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik