Hujan sore itu turun tanpa ampun. Air mengalir deras di pinggir jalan raya, memantulkan cahaya lampu kendaraan yang melintas cepat. Di bawah gapura gerbang masuk sebuah pabrik di sisi jalan besar, dua anak kecil berdiri berdempetan, berteduh dari hujan yang mengguyur tanpa jeda. Angin menusuk tulang, pakaian mereka basah, namun mereka tetap bertahan. Yang satu memegang payung lusuh dengan tangan kecilnya, yang satu lagi memeluk sebuah box plastik berisi makanan ringan. Mereka adalah Novi (15) dan adiknya, Aqila (10).

Novi berdiri sedikit lebih maju, memiringkan payung agar adiknya tidak kehujanan. Sesekali ia bercanda, tertawa kecil, berusaha mengalihkan perhatian Aqila dari rasa dingin dan perih di kulitnya. Di tengah derasnya hujan dan kerasnya hidup, tawa itu terdengar seperti doa yang tak terucap—doa agar hari esok lebih baik dari hari ini.

Novi saat ini duduk di bangku SMP kelas 2. Namun sepulang sekolah, ia tidak menikmati waktu bermain atau beristirahat seperti teman-temannya. Ia mengganti seragamnya dengan pakaian sederhana, lalu berkeliling menjajakan makanan ringan seharga seribu rupiah. Berbekal sebuah box plastik, Novi menyusuri gang demi gang, berharap dagangannya habis terjual. Hasilnya tak seberapa, namun setiap rupiah ia kumpulkan dengan penuh harapan.

Ayah mereka bekerja sebagai buruh pengambil rumput di sebuah peternakan, pekerjaan berat dengan upah yang tidak menentu. Ibu mereka baru bekerja sebagai buruh pabrik, itupun belum lama dan penghasilannya masih sangat terbatas. Kondisi ekonomi keluarga ini berada di titik paling sulit. Hingga kini, Novi terancam harus berhenti sekolah, karena biaya pendidikan dan kebutuhan harian semakin tak sanggup dipenuhi.

Namun di balik ancaman itu, Novi menyimpan sebuah cita-cita besar. Setelah melihat kondisi adiknya yang sakit dan sulit mendapatkan pengobatan, Novi bermimpi menjadi seorang dokter. Ia ingin bisa menyembuhkan Aqila, ingin memahami apa yang terjadi pada tubuh adiknya, dan ingin memastikan tak ada lagi rasa sakit yang harus ditahan karena keterbatasan biaya. Cita-cita itu sederhana, namun lahir dari rasa cinta yang begitu dalam.
Aqila, adik yang sangat ia jaga, saat ini duduk di kelas 3 SD. Ia menderita alergi berat terhadap sinar matahari yang menyebabkan kerusakan pada hampir seluruh kulit tubuhnya. Wajah Aqila dipenuhi bintik hitam seperti terbakar, hidungnya sering berdarah, dan rasa perih terus menghantuinya. Aqila terakhir kali berobat setahun yang lalu, bukan karena sembuh, melainkan karena keluarga ini tak lagi mampu membayar biaya pengobatan.
Tak hanya menanggung sakit fisik, Aqila juga harus menghadapi luka batin. Kondisinya sering menjadi bahan ejekan. Tatapan heran, bisikan, dan kata-kata yang menyakitkan membuatnya kerap merasa rendah diri. Ada hari-hari ketika Aqila pulang dengan mata berkaca-kaca, bertanya pada kakaknya, mengapa dirinya berbeda. Dan setiap kali itu terjadi, Novi hanya bisa memeluknya, menahan air mata sendiri.
Sering kali mereka berjualan bersama. Aqila ikut menemani, meski harus menahan rasa sakit dan tidak nyaman, demi membantu keluarga. Seperti sore itu, ketika hujan deras memaksa mereka berteduh di bawah gapura pabrik. Novi tetap menggenggam payung, menjaga adiknya, seolah berkata pada dunia bahwa selama ia masih berdiri, Aqila tidak sendirian.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, kesehatan Aqila berisiko semakin memburuk, infeksi bisa terjadi, dan perawatan akan semakin sulit. Sementara itu, masa depan Novi juga terancam terhenti—seorang anak dengan mimpi besar bisa kehilangan kesempatan sekolah hanya karena kemiskinan.
Di sinilah kepedulian kita semua menjadi sangat berarti. Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk membantu biaya pengobatan dan perawatan Aqila, membuka kembali akses berobat yang telah terhenti selama setahun, serta meringankan beban ekonomi keluarga agar Novi bisa tetap melanjutkan sekolah dan mengejar mimpinya menjadi dokter.
π£ Mari kita hadir sebagai harapan bagi Novi dan Aqila.
Ulurkan tangan Anda hari ini agar Aqila bisa kembali berobat, agar Novi tidak perlu mengubur cita-citanya, dan agar hujan yang mereka hadapi tidak selalu berarti kesedihan.
π Klik DONASI SEKARANG
π Bagikan cerita ini agar lebih banyak hati tergerak
π Jadilah bagian dari perubahan hidup dua anak luar biasa ini
π Disclaimer Penggunaan Dana:
Dana donasi yang terkumpul akan disalurkan secara amanah, adil, dan transparan oleh Yayasan Ruang Kebaikan Indonesia untuk membantu biaya pengobatan Aqila, kebutuhan pendukung kesehatan, serta meringankan beban ekonomi keluarga. Apabila terdapat kelebihan dana, maka akan dialokasikan untuk membantu penerima manfaat lain di bawah naungan Yayasan Ruang Kebaikan Indonesia. Informasi dan konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
Hari ini, satu kebaikan dari Anda bisa menjadi jembatan antara sakit dan sembuh, antara putus sekolah dan masa depan, antara putus asa dan harapan.
Baca selengkapnya βΎ