


Namanya Bu Tutu, Suaminya Meninggal 6 Bulan lalu, sekarang usianya menginjak 40 tahun, namun hidup telah memberinya ujian yang terasa jauh lebih berat dari usianya. Ia menderita kelebihan cairan di otak yang perlahan mengubah wajahnya. Bagian kanan wajahnya turun, membentuk gumpalan besar hingga mata kanannya tertutup, dan kini ia kehilangan kemampuan untuk melihat dari sisi itu.

Setiap kali orang menatap wajahnya, yang mereka lihat mungkin hanya penyakit. Tetapi di balik wajah yang berubah itu, ada seorang ibu yang sedang berjuang menahan rasa sakit, ketakutan, dan kehilangan yang datang hampir bersamaan.

Tahun lalu, suaminya meninggal dunia. Padahal selama ini suaminya yang sejak lahir juga merupakan penyandang disabilitas, tetap berusaha mendampingi hidupnya. Kepergian suaminya meninggalkan luka yang sangat dalam—bukan hanya bagi Bu Tutu, tetapi juga bagi dua anak mereka yang masih kecil, yang kini baru berusia 10 tahun dan 9 tahun.

Sejak saat itu, Bu Tutu harus menjalani semuanya sendirian. Menjadi ibu. Menjadi ayah. Menjadi pelindung bagi dua anak yang masih membutuhkan pelukan. Dalam kondisi tubuh yang terus melemah, ia tetap berusaha berdiri demi anak-anaknya.
Saat ini, Bu Tutu menjadi pengurus majelis sholawat di rumah wakaf milik umat. Di tempat itulah ia menghabiskan hari-harinya, menjaga rumah ibadah sambil tetap menguatkan hati di tengah ujian yang tak kunjung berhenti. Di tengah rasa sakitnya, ia masih memilih dekat dengan dzikir dan sholawat.

Namun kenyataannya, Bu Tutu tidak memiliki usaha tetap. Untuk bertahan hidup, ia hanya mengandalkan tabungan peninggalan almarhum suaminya yang semakin menipis, serta berjualan pulsa kecil-kecilan dengan penghasilan yang sangat terbatas. Sementara kebutuhan hidup dua anaknya terus berjalan setiap hari.
Inilah yang membuat kisah Bu Tutu begitu menyentuh: seorang wanita yang kehilangan penglihatan di satu mata, kehilangan suami, hidup tanpa penghasilan tetap, namun tetap memilih mengurus majelis sholawat dan membesarkan anak-anaknya dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Ia tidak menyerah pada takdir, meski hidup terasa begitu berat.
Hari ini, kita bisa menjadi jalan pertolongan untuk Bu Tutu. Donasi yang Anda berikan akan digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari, biaya pengobatan, serta dukungan usaha kecil agar Bu Tutu tetap bisa menghidupi anak-anaknya dengan lebih layak.
🙏 Klik DONASI SEKARANG.
Bantu Bu Tutu melihat harapan di tengah gelapnya ujian.
Bantu dua anaknya tetap memiliki masa depan.
Satu kebaikan dari Anda bisa menjadi cahaya bagi seorang ibu yang tetap bertahan dalam gelap.
📜 Disclaimer:
Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu kebutuhan pengobatan, kebutuhan hidup sehari-hari, serta dukungan usaha Bu Tutu dan kedua anaknya. Apabila terdapat kelebihan dana, sebagian akan digunakan untuk membantu penerima manfaat lain yang membutuhkan sesuai kebijakan lembaga pengelola donasi.
Informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik