

*“Abah Adul: Seorang Mualaf, Seorang Kakek, dan Perjuangan yang Tak Pernah Menyerah”*

Namanya *Abah Adul, dikenal juga sebagai **Kakek Chen Kuangtai. Usianya kini 72 tahun. Dahulu ia memeluk agama lain, lalu dengan keyakinan penuh memilih menjadi **mualaf dan memeluk Islam*. Ia membangun keluarga, memiliki anak, dan kini menghabiskan hari-harinya sebagai seorang kakek. Di usia yang seharusnya diisi dengan ketenangan, Abah Adul justru diuji dengan perjuangan hidup yang sangat berat.

Cucu kesayangannya, *Sifa, baru berusia 17 tahun. Di usia di mana mimpi semestinya tumbuh, Sifa harus menghadapi kenyataan pahit: **kanker tulang dan kanker payudara. Demi menyelamatkan nyawanya, dokter terpaksa **mengamputasi lengan kiri Sifa. Hingga hari ini, luka di pundak kirinya masih **basah dan belum kering*, dan proses penyembuhan masih panjang serta menyakitkan.

Setiap hari, Abah Adul memandangi cucunya dengan hati yang hancur, namun ia berusaha tetap tegar. Ia tahu, *Sifa harus segera menjalani kemoterapi*, karena kondisi kesehatannya semakin mengkhawatirkan. Biaya pengobatan memang ditanggung BPJS, namun perjuangan tidak berhenti di ruang rumah sakit. Ada kebutuhan lain yang tak kalah penting: makanan, transport, perawatan harian, dan biaya hidup selama proses pengobatan.

Untuk mencukupi kebutuhan itu, Abah Adul bekerja sebagai *tukang tambal ban. Di usianya yang ke-72, tenaganya sudah jauh berkurang. Sering kali ia pulang **tanpa membawa uang sama sekali* karena seharian tak ada pelanggan. Namun ia tetap berangkat setiap pagi, bukan karena yakin akan mendapatkan penghasilan, tetapi karena ia tidak ingin menyerah pada keadaan.
Ada hari-hari ketika Abah Adul *harus berhutang kepada pedagang, hanya agar bisa membawa **semangkuk bubur hangat* untuk Sifa. Bahkan dalam perjalanan pulang, ia kerap *memulung barang-barang bekas*—botol plastik, kardus, dan apa pun yang bisa dijual. Semua dilakukan dengan satu tujuan sederhana: agar cucunya tidak merasa sendirian dalam perjuangan melawan kanker.
Inilah yang membuat kisah Abah Adul begitu istimewa. Seorang *mualaf lansia, hidup sederhana, tidak pernah mengeluh, tidak meminta-minta, namun berjuang dengan caranya sendiri demi cucu yang ia cintai. Ia rela lapar, rela berhutang, rela memulung, asalkan Sifa masih punya tenaga untuk bertahan hidup. Ini bukan kisah tentang belas kasihan—ini adalah kisah tentang **cinta yang bertahan di tengah keterbatasan*.
Teman-teman, hari ini kita bisa menjadi jawaban atas doa Abah Adul. Donasi yang Anda berikan akan digunakan untuk *kebutuhan operasional sehari-hari Sifa*, seperti makanan bergizi, transport berobat, perawatan luka pasca amputasi, serta kebutuhan hidup selama proses kemoterapi. Bantuan Anda akan meringankan langkah Abah Adul, agar ia tidak lagi harus memilih antara berhutang atau membiarkan cucunya menahan lapar.
🙏 *Mari ulurkan tangan hari ini. Klik DONASI SEKARANG.*
Satu kebaikan dari Anda adalah *harapan hidup bagi Sifa* dan *kekuatan baru bagi Abah Adul* untuk terus bertahan. Bersama, kita bisa memastikan perjuangan ini tidak dijalani sendirian.
📜 *Disclaimer:*
Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu *kebutuhan operasional dan kehidupan sehari-hari Abah Adul* selama proses pengobatan (non-medis), termasuk makanan, transport, dan perawatan pendukung. Penggalangan dana ini disalurkan secara amanah. Apabila terdapat kelebihan dana, sebagian akan digunakan untuk membantu *penerima manfaat lain* yang membutuhkan sesuai kebijakan lembaga pengelola donasi.
informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik