ImageSebesar Dua Kepalan Tangan Dewasa, Tumor Mata Kenz...
Image

Sebesar Dua Kepalan Tangan Dewasa, Tumor Mata Kenzo Mengancam Nyawa

Rp 50.644 terkumpul dari Rp 75.000.000
1 Donasi 2 bulan, 25 hari lagi

Penggalang Dana

Image
Image
Verified Organization

Di usia yang masih muda, Bu Andini (29 tahun) telah melewati ujian hidup yang tak mudah dibayangkan. Ia adalah seorang ibu, seorang pejuang, dan seorang penyintas kanker yang kini tengah berjuang tak hanya untuk dirinya sendiri—tetapi untuk menyelamatkan Kenzo, anak semata wayangnya yang baru berusia 3 tahun, dari ancaman kanker mata yang semakin mengganas.

Beberapa waktu lalu, dunia Bu Andini runtuh seketika saat ia divonis mengidap tumor payudara. Saat itu, ia baru mulai merintis kehidupan sebagai istri dan ibu. Proses pengangkatan tumor dan pengobatan pascaoperasi yang menyakitkan tak menyurutkan semangatnya untuk terus bekerja. Meski tubuh belum pulih, Bu Andini tetap bangkit, menjajakan makanan kecil di sebuah sekolah madrasah dekat rumahnya. Pendapatan yang ia hasilkan tak seberapa, apalagi hanya dari dagangan yang tergantung musim sekolah dan kondisi fisik yang sering drop akibat pengobatan.

Belum selesai berjuang dengan penyakitnya sendiri, cobaan berikutnya datang tanpa ampun. Kenzo, anaknya yang baru belajar mengenal dunia, didiagnosis menderita kanker mata (retinoblastoma). Matanya yang sebelah kiri harus segera diangkat untuk menyelamatkan nyawanya. Bu Andini harus menyaksikan sendiri anak kecilnya menjalani operasi pengangkatan mata, menahan tangis demi memberi semangat, padahal hatinya sendiri sedang retak oleh rasa sakit.

Sayangnya, penderitaan belum berakhir. Kanker di mata Kenzo kini kembali tumbuh, bahkan lebih agresif dari sebelumnya. Dokter menyarankan segera dilakukan pengobatan lanjutan, kemungkinan besar kemoterapi atau bahkan pengangkatan jaringan tambahan di sekitar area mata. Tapi semua itu butuh biaya besar—biaya yang jelas tak mampu ditanggung oleh Bu Andini dan suaminya, yang bekerja sebagai buruh serabutan dan seringkali harus pergi ke luar kota tanpa kepastian penghasilan.

Kini, Bu Andini hidup dalam ketakutan yang terus membayang:

“Saya takut… takut kalau harus kehilangan Kenzo. Dia anak satu-satunya. Kalau saya gagal menyelamatkannya, untuk apa saya sembuh?” ucapnya lirih.

Tanpa pengobatan lanjutan, sel kanker Kenzo bisa menyebar ke organ lainnya, bahkan bisa mengancam keselamatan jiwanya. Ia masih sangat kecil, belum memahami kenapa harus kehilangan mata, belum mengerti kenapa harus menghabiskan waktu di rumah sakit ketimbang bermain. Tapi satu hal yang ia tahu pasti: ibunya tak pernah berhenti mendampinginya, meski harus menahan sakit di tubuhnya sendiri.

Disclaimer : informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id

Baca selengkapnya ▾

  • March, 18 2026

    Campaign is published

Roni21 jam yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 50.644

Fundraiser

Belum ada Fundraiser

Mari jadi Fundraiser dan berikan manfaat bagi program ini.

Doa-doa orang baik

Menanti doa-doa orang baik

Bagikan melalui:
✕ Close