

Di sebuah rumah panggung yang sudah lapuk termakan usia, tinggal seorang ibu luar biasa bernama Nurhayati. Hidupnya penuh ujian, namun ia tak pernah menyerah. Suaminya menderita diabetes parah hingga kakinya mati rasa dan berlubang. Pandangannya pun semakin kabur akibat efek samping obat yang ia konsumsi. Sudah setahun ini sang suami tak bisa bekerja, sering kali tubuhnya lemah hingga tak sadarkan diri.

Sebagai seorang istri , Ibu Nurhayati harus menggantikan peran suami sebagai tulang punggung keluarga. Namun perjuangannya tidak mudah. Kondisi ekonomi mereka sangat terbatas. Bahkan untuk makan sehari-hari, mereka sering kali hanya mampu menyantap nasi dengan garam.
Setiap hari, sejak pagi hingga sore, Ibu Nurhayati bekerja keras demi menghidupi keluarganya. Pukul 07.00 pagi hingga 12.00 siang, ia bekerja sebagai buruh tani dengan upah hanya Rp40.000 per hari dan itupun jika ada yang membutuhkan jasanya.
Setelahnya, ia masih harus mencari kayu bakar untuk keperluan memasak serta rumput untuk pakan domba dari pukul 13.00 hingga 15.00 sore. Tak ada waktu untuk beristirahat, karena di rumah ia juga harus merawat suaminya yang sakit serta mengurus anak-anaknya.

Selain menjadi buruh tani, Ibu Nurhayati mencoba bertahan dengan cara lain. Ia mengurus ayam milik saudara dan tetangganya dengan sistem bagi hasil. Dari hasil kerja kerasnya, ia kadang mendapatkan anak ayam, namun tak jarang ayam yang dipeliharanya mati sebelum bisa dijual. Sebelumnya, ia sempat menabung untuk membeli domba, tetapi kini, satu per satu dombanya terpaksa dijual demi memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pengobatan sang suami.

Lebih dari itu, Ibu Nurhayati sendiri sebenarnya memiliki kondisi kesehatan yang kurang baik. Ia menderita penyakit keturunan yang menyebabkan tubuhnya dipenuhi benjolan-benjolan kecil yang sering mengganggu aktivitasnya. Namun, di tengah ujian yang begitu berat, ia tetap bertahan. Ia tetap bekerja, tetap tersenyum untuk anak-anaknya, dan tetap berusaha agar keluarganya bisa bertahan hidup.

Kini, Ibu Nurhayati membutuhkan uluran tangan kita. Rumahnya yang sudah rusak semakin tak layak huni. Atap yang bocor tak mampu melindungi mereka dari hujan, bahkan toiletnya tak beratap dan tidak layak digunakan. Kebutuhan pangan keluarganya pun masih jauh dari cukup. Setiap hari adalah perjuangan, namun semangatnya tak pernah padam.
Saatnya kita bergerak! Mari bersama kita ringankan beban Ibu Nurhayati. Dengan bantuan kita, ia bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak, suaminya bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik, dan anak-anaknya bisa tumbuh sehat tanpa kekurangan gizi.

Kantor Yayasan Relawan Mulia
Kp. Kubang RT 02/RW 04 Desa Nanjungjaya Kecamatan Kersamanah Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat
WhatsApp Center: 0822-4031-7293
Izin Lembaga Kesejahteraan Sosial
Akta Pendirian : Yayasan Relawan Mulia Peduli Kemanusiaan No. 4 tanggal 5 Juli 2024 dengan akta notaris Mohamda Juania, SH, M.Kn.
SK KEMENHUMHAM : Nomor AHU-0010269.AH.01.04.Tahun 2024 tentang pengesahan pendirian yayasan