Image4 Lansia Dhuafa Berjuang Sendirian di Usia Senja, ...
Image

4 Lansia Dhuafa Berjuang Sendirian di Usia Senja, Bantu Mereka Bertahan!

Rp 0 terkumpul dari Rp 75.000.000
0 Donasi 1 bulan, 29 hari lagi

Penggalang Dana

Image
Image
Verified Organization

Kita sering membayangkan hari tua sebagai masa yang tenang. Duduk santai di teras, merasakan semilir angin sore, dikelilingi orang-orang terkasih, tanpa perlu lagi memikirkan esok makan apa.

Tapi kenyataannya, tidak semua orang seberuntung itu.

Di banyak sudut negeri ini, ada lansia yang masa tuanya justru diisi dengan perjuangan tanpa henti. Setiap pagi mereka bangun dengan pertanyaan yang sama: apakah hari ini akan ada makanan?

Abah Uyang, 80 Tahun
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terik, Abah sudah menyusuri irigasi untuk menjala ikan. Tangannya sudah gemetar, matanya tak lagi setajam dulu, dan tak jarang ia berangkat dengan perut yang masih kosong. Sejak istrinya berpulang, tidak ada lagi yang menyiapkan sarapan sebelum ia pergi, tidak ada pula yang menantinya pulang. Ada hari-hari ketika seharian penuh, tak satu pun ikan berhasil ditangkap—bahkan Abah pernah jatuh pingsan karena menahan lapar. Di hari baiknya, hasil jualan ikan hanya sekitar Rp20.000, itu pun tidak setiap hari didapat.

Emak Emis, 78 Tahun
Selama bertahun-tahun, Emak bertahan hidup dengan berjualan sapu lidi dan nasi aron keliling kampung. Namun belakangan, Emak terjatuh dan tangannya patah. Bengkak dan nyeri menyertai hari-harinya, sementara biaya untuk berobat ke dokter tak ia miliki. Kini Emak hanya bisa berbaring, tak lagi mampu berjualan. Rasa sakit yang terus-menerus membuat nafsu makannya menghilang. Para tetangga membantu semampu mereka, tapi Emak tetap harus melewati malam demi malam sendirian, tanpa suami, tanpa anak, hanya berharap ada uluran tangan yang mau peduli.

Pak Nurdin & Bu Enok
Tiga tahun lalu, hidup keluarga ini berubah total. Pak Nurdin digigit ular saat sedang bekerja di kebun, dan karena terlambat ditangani, kakinya harus diamputasi. Belum sempat pulih dari kenyataan itu, stroke datang menghampiri. Kini Pak Nurdin hanya bisa terbaring, bahkan untuk menelan makanan pun ia kesulitan, dan harus bergantung pada popok dewasa untuk kebutuhan hariannya.

Semua beban keluarga kini dipikul sendiri oleh Bu Enok. Di usia 49 tahun, ia bekerja sebagai buruh cuci dengan upah sekitar Rp30.000 per hari—itu pun jika ada yang memanggilnya bekerja. Di rumah, mereka bahkan tak punya kasur layak, hanya karpet usang sebagai alas tidur. Bu Enok jarang mengeluh, tapi dari matanya terlihat jelas betapa berat jalan yang harus ia lalui setiap hari.

Empat Nama, Satu Perjuangan yang Sama

Kisah Abah Uyang, Emak Emis, Pak Nurdin, dan Bu Enok hanyalah sebagian kecil dari banyak lansia dhuafa yang masih berjuang di usia yang seharusnya sudah bisa mereka nikmati dengan tenang.

Mari temani perjuangan mereka. Sisihkan sebagian rezeki terbaikmu hari ini, agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian menghadapi semua ini.

Cara berdonasi:

  1. Klik tombol "DONASI SEKARANG"
  2. Masukkan nominal donasi
  3. Pilih metode pembayaran: GO-PAY, Jenius Pay, LinkAja, DANA, Mandiri Virtual Account, BCA Virtual Account, atau transfer bank (BNI, Mandiri, BCA, BRI, BNI Syariah, atau kartu kredit) ke nomor rekening yang tertera.

Selain berdonasi, kamu juga bisa membantu dengan membagikan halaman galang dana ini kepada orang-orang terdekat, agar semakin banyak yang tergerak untuk ikut peduli.

Disclaimer: Informasi dan konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.

Baca selengkapnya ▾

  • July, 21 2026

    Campaign is published

Belum ada donasi untuk penggalangan dana ini

Fundraiser

Belum ada Fundraiser

Mari jadi Fundraiser dan berikan manfaat bagi program ini.

Doa-doa orang baik

Menanti doa-doa orang baik

Bagikan melalui:
✕ Close