
Masjid, tidak hanya pusat ibadah, namun pusat peradaban umat Islam
Mayoritas masyarakat Indonesia memeluk agama Islam, tidak heran jika banyak masjid tersebar di seluruh daerah, termasuk hingga ke daerah pelosok. Menurut data dari Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama (Kemenag), Masjid Jami merupakan jenis masjid yang paling banyak tersebar di Indonesia, dengan jumlah mencapai 242.520 unit. Masjid Jami umumnya berada di tingkat kelurahan atau desa dan keberadaannya diatur oleh pemerintah setempat.
Penduduk di daerah pelosok tidak hanya menggunakan masjid jika ingin beribadah, namun banyak yang menggunakannya untuk mengaji, menyelenggarakan acara besar, dan mengajar pendidikan agama. Tidak heran jika masjid juga disebut sebagai pusat peradaban, dibanding hanya digunakan sebagai pusat ibadah.
Ironisnya, banyak masjid di pelosok daerah jauh dari kata layak untuk digunakan
Salah satunya adalah masjid Al Mujahidin yang berlokasi di Nanga Rema, Kelurahan Nanga
Baras, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Masjid ini digunakan kurang lebih oleh 30 KK dari dua wilayah. Awalnya, masjid ini adalah sebuah rumah warisan orang tua dari Ustaz Muhidin Yamin yang kemudian diwakafkan karena kebutuhan mendesak masyarakat akan tempat ibadah.
Sebelum masjid Al Mujahidin dibangun, masyarakat terbiasa untuk beribadah berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Saat momen istimewa, seperti Idulfitri, hari Jumat atau hari besar keagamaan lainnya, masyarakat terpaksa harus berjalan kaki menempuh kurang lebih 10 km ke desa sebelah, bahkan hingga menyeberangi sungai. Dengan kondisi kampung tanpa listrik dan sinyal, mereka kerap membawa obor atau lampu cempor demi tetap bisa beribadah.

Masjid Al Muhajidin butuh direnovasi untuk menjadikannya tempat ibadah yang nyaman dan layak
Tidak seperti saat awal dibangun, kondisi masjid Al Muhajidin sudah sangat memprihatinkan. Terlebih lagi, masjid tersebut terletak di daerah terpencil tanpa akses listrik dan sinyal. Kini, dindingnya yang terbuat dari kayu lapuk, banyak yang sudah patah dan berlubang. Jika malam tiba, angin dingin berhembus kencang dari celah kayu yang berlubang. Atapnya yang terbuat dari seng, kini telah berkarat, bahkan bocor di banyak tempat. Jika hujan turun, masjid tidak hanya penuh dengan jemaah, namun juga ember-ember untuk menampung tetesan air.
Lantai masjid sudah mulai tidak rata dan banyak yang berlubang, sehingga membuat masyarakat kadang tersandung. Faslitas masjid pun terbilang sangat minim, hanya tikar lusuh yang digunakan sebagai sajadah, penerangan seadanya dari panel surya kecil atau lampu cempor, dan tidak tersedia tempat wudu sehingga warga harus mengambil air dari sungai sejauh 2 km.

Sahabat, masyarakat NTT tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin tempat ibadah yang aman, terang, dan layak. Sebuah masjid yang bisa menjadi sebuah cahaya iman, bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk generasi Muslim di masa mendatang. Sahabat bisa jadi bagian dari misi kebaikan ini.
Bantu renovasi masjid Al Mujahidin, masjid dari rumah tua yang menjadi harapan satu-satunya bagi saudara kita di NTT.
Yuk, salurkan donasi terbaikmu dengan cara:
Informasi & Konfirmasi Donasi
Whatsapp Center: 08123 2011 55
Kantor Yayasan Kasih Palestina
Jl. Puspa Kencana No.7 RT 01 RW 24, Desa Cileunyi Kulon, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat 40622 (Ruko Komplek Bumi Panyawangan Cileunyi)
Izin Lembaga Kesejahteraan Sosial :
Izin LKS Kabupaten Bandung Nomor 503/0041-IO-ORSOS/DPMPTSP/X/2021
Izin LKS Provinsi Jawa Barat Nomor 062/246/PPSKS/2022
Izin PUB :
Izin Kabupaten Bandung Nomor 503/0001-PIPUB/DPMPTSP/X2022
Nomor PUB: 1184/HUK-PS/2023
Predikat Laporan Keuangan 2023:
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)