

“Di kampung kecil bernama Cipatik, Kabupaten Bandung Barat, ada kisah memilukan seorang pemuda, Albi Redha, yang kini hanya bisa terbaring tanpa daya akibat keracunan pestisida.”
Dulu, ia adalah pemuda yang penuh semangat, selalu membantu kakaknya mencari nafkah sebagai buruh pabrik di Jakarta, setelah kedua orang tua mereka meninggal. Namun sebuah kejadian tragis mengubah segalanya: saat bekerja, Albi mengalami keracunan pestisida. Sejak hari itu, tubuhnya lumpuh, bahkan otaknya melemah hingga ia tak pernah bisa bergerak lagi.
Kini, satu-satunya tanda bahwa Albi masih “hadir” hanyalah dari kedipan matanya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menjawab panggilan atau menenangkan kakaknya. Ia tidak bisa duduk, tidak bisa berjalan, bahkan untuk bernafas dengan tenang pun terasa berat.

Kakaknya, seorang pemuda yang tabah, menjadi pengganti tangan dan kaki Albi. Setiap pagi ia memandikan sang adik, membersihkan tubuhnya, menyuapkan makanan, mengganti pakaian, dan menemaninya berbaring sepanjang hari. Di sela-sela kesibukan merawat, ia tetap berusaha menghidupi keluarganya dengan mengajar privat mengaji anak-anak di sekitar kampung. Dari situlah sedikit uang masuk—tak seberapa, tetapi cukup untuk sekedar membeli beras atau lauk sederhana.
Namun kebutuhan Albi jauh lebih besar. Ada peralatan medis yang tidak tercover BPJS, ada obat-obatan dengan harga sangat mahal, ada kebutuhan gizi yang harus terpenuhi agar tubuhnya tidak semakin rapuh. Sementara adiknya yang masih duduk di bangku SLTP hanya bisa pasrah, diam di pojok rumah, sering menahan tangis saat melihat tubuh kakaknya yang dulu kuat kini hanya terbujur tak berdaya.

Mereka sekeluarga kini menumpang di rumah orang baik hati, yang bersedia memberi tempat tinggal tanpa meminta imbalan. Tetapi rasa segan dan khawatir selalu ada; sampai kapan mereka bisa menumpang? Bagaimana bila esok tak ada lagi tempat untuk beristirahat?
Di malam hari, ketika kampung terlelap, kakak Albi sering duduk di sisi ranjang usang tempat adiknya terbaring. Ia membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara lirih, berharap menjadi obat hati bagi sang adik sekaligus penguat bagi dirinya sendiri. Dan setiap kali ia berkata “Albi kuat, ya… Allah sayang sama kita,” mata Albi akan berkedip pelan—tanda ia mendengar, tanda ia masih berjuang dalam sunyi.
Hidup mereka adalah kisah tabah dalam derita. Di tengah penderitaan yang begitu panjang, ada cinta dan kesabaran yang tak pernah habis. Kakak dan adik yang masih kecil merawat satu-satunya keluarga yang tersisa, meski tanpa harta, tanpa penghasilan tetap, tanpa jaminan hari esok.
Namun justru dalam kesederhanaan yang memilukan itu, kita melihat secercah cahaya: mereka tidak menyerah. Kedipan mata Albi adalah tanda kehidupan, dan semangat kakaknya adalah sumber kekuatan. Kisah mereka adalah semacam doa yang tak terucap—sebuah harapan agar dunia tak memalingkan wajah dari luka mereka yang begitu nyata.

Berikut adalah ringkasan Rencana Anggaran Biaya (RAB) kebutuhan Albi dan keluarga untuk 6 bulan ke depan, dengan estimasi berdasarkan kondisi lumpuh total, kebutuhan peralatan medis, makanan, gizi, dan biaya lain-lain di luar BPJS. Angka ini berbasis kisaran umum di Indonesia dan harus disesuaikan jika ada kebutuhan spesifik tambahan.
| Kategori | Per Bulan (Rp) | 6 Bulan (Rp) | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Makanan Pokok Keluarga | 1.500.000 | 9.000.000 | Beras, lauk, sayur 3 orang |
| Susu/MPASI/Gizi Khusus | 1.000.000 | 6.000.000 | Nutrisi tambahan Albi |
| Obat-obatan Tambahan | 500.000 | 3.000.000 | Obat luar BPJS (vitamin, salep, dsb) |
| Sewa Alat Medis* | 1.000.000 | 6.000.000 | Kursi roda/tempat tidur khusus |
| Peralatan Medis Habis Pakai | 350.000 | 2.100.000 | Kateter, popok dewasa, sarung tangan |
| Personal hygiene | 200.000 | 1.200.000 | Sabun, sampo, tisu, perlengkapan mandi |
| Transportasi ke RS/konsultasi | 300.000 | 1.800.000 | Kontrol dokter/transportasi |
| Biaya Darurat & Tambahan | 250.000 | 1.500.000 | Peralatan rusak, keperluan tidak terduga |
| TOTAL | 4.600.000 | 27.600.000 |
*Catatan: Sewa alat medis sangat bervariasi. Jika sudah punya alat sendiri, biaya bisa lebih kecil. Harga di atas adalah rata-rata untuk kursi roda manual, tempat tidur pasien, popok dewasa, dan kebutuhan sanitasi lainnya. Untuk kebutuhan nutrisi khusus (suplemen/vitamin/thickener makanan), biaya bisa naik sesuai rekomendasi medis terkini.
Makanan dan gizi dihitung minimal, cukup untuk kebutuhan 3 orang dalam masa sulit, termasuk kebutuhan anak SLTP yang masih tumbuh.
Obat di luar BPJS biasanya meliputi vitamin, pereda nyeri/salep, pelembab kulit agar tidak luka baring.
Peralatan medis habis pakai mencakup popok dewasa, kateter, perban, kasa, sarung tangan, yang habis dalam 1-2 minggu.
Transportasi dibutuhkan untuk kontrol, membeli kebutuhan khusus, konsultasi gizi jika diperlukan.
Biaya darurat/tambahan penting untuk mengantisipasi alat rusak, kebutuhan mendadak.
RAB ini disusun dengan prinsip mendahulukan kebutuhan mendasar dan mengantisipasi pengeluaran yang sering diabaikan dalam keluarga tanpa penghasilan tetap.

Mari kita bantu meringankan beban Albi Redha, pemuda Cipatik, Kabupaten Bandung Barat, yang kini hanya bisa terbaring lumpuh dan sangat membutuhkan biaya perawatan, alat medis, serta kebutuhan hidup sehari-hari.
Setiap donasi yang diberikan, sekecil apa pun, sangat berarti untuk membantu Albi dan keluarganya bertahan di masa sulit ini.
Salurkan rasa peduli Anda—bersama kita wujudkan harapan dan kehangatan bagi Albi dan keluarganya.



![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik