

Hati suami mana yang tak hancur?
Setiap hari Pak Aris bekerja keras menjahit dengan upah hanya Rp10.000. Uang sekecil itu memaksanya menghadapi pilihan yang mustahil setiap hari: Membelikan obat untuk istrinya yang sedang membusuk, atau membeli nasi agar mereka tidak mati kelaparan.

Sudah satu tahun Bu Komala menahan sakit. Awalnya hanya bentol kecil yang gatal, dikira gigitan serangga biasa. Namun siapa sangka, dalam 5 bulan terakhir, bentol itu berubah menjadi mimpi buruk.

Luka itu kini menganga lebar, bernanah, dan mengeluarkan bau busuk yang menyengat.
Kondisinya kian kritis. Karena tak mampu membeli perban medis yang steril, Pak (Nama Suami) terpaksa membalut luka istrinya dengan kain bekas seadanya. Rasa perih dan risiko infeksi tak lagi dipedulikan, yang penting luka itu tertutup.

Dokter kini tengah mempertimbangkan langkah drastis: Apakah Bu Komala harus menjalani KEMOTERAPI berat atau tangannya harus DIAMPUTASI.
Namun, bagaimana bisa sampai ke sana? Untuk ongkos ke rumah sakit saja mereka tak punya, apalagi biaya pengobatan jangka panjang.

Sahabat, jangan biarkan Bu Komala kehilangan harapan (atau tangannya) hanya karena ketiadaan biaya. Mari bantu ringankan beban Pak Penjahit ini.
Disclaimer : informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik