
Di usia 70 tahun, Abah Nedi hidup sebatang kara di sebuah gubuk kecil di tengah kebun dan area pemakaman di Karawang. Kehilangan istri dan rumah akibat faktor ekonomi membuat Abah harus rela melewati masa orang tuanya di tempat yang sunyi dan memprihatinkan ini.
Untuk bertahan hidup, Abah hanya mengandalkan kerja serabutan yang tidak menentu. Akibatnya, perut Abah lebih sering kosong. Jika tidak ada uang untuk membeli beras, Abah mencari lauk di sungai, atau hanya makan nasi dengan taburan garam saja.
Penderitaannya kian terasa saat malam dan cuaca buruk tiba:
Saat Hujan: Gubuknya bocor parah hingga air menggenang di dalam rumah, membuat Abah kesulitan sekadar untuk tidur.
Saat Malam: Abah harus menahan dingin dan sepi, hanya ditemani gigitan nyamuk di area pemakaman.
Untuk Minum: Abah terpaksa mengambil air masjid terdekat lalu memasaknya, meski airnya sering kali tidak jernih.
Di usia senjanya, Abah Nedi hanya bisa pasrah menjalani hidup tanpa tempat bersandar.
Mari sisihkan sebagian rezeki kita dan bantu ringankan beban Abah Nedi.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik