

Perjuangan Abah Adi yang Menginspirasi, bertekad membangun jamban dan kakus untuk istrinya yang sedang sakit kelenjar.
Di sudut Andir, Baleendah, Kabupaten Bandung, hidup seorang lelaki tua bernama Bah Adi. Usianya telah menginjak 72 tahun. Tubuhnya yang mulai bongkok dan langkahnya yang pelan tak pernah menyurutkan tekadnya untuk tetap mencari nafkah demi istrinya yang sedang sakit.

Sang istri kini hanya bisa terbaring lemah di rumah, menderita pembengkakan kelenjar di leher. Setiap hari, Bah Adi menjadi satu-satunya perawat yang setia. Ia memasak, mencuci, menyuapi, dan menghibur istrinya dengan penuh kasih, tanpa keluh dan tanpa jeda.

Dulu, Bah Adi adalah buruh pabrik. Gajinya tak seberapa, hanya cukup untuk makan dan berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya.
Ketika pabrik tempatnya bekerja gulung tikar, ia menerima pesangon dalam jumlah kecil. Dengan uang itu, ia bangun rumah sangat sederhana di atas tanah miliknya sendiri.
Dinding rumah itu terbuat dari batako. Namun hingga kini belum sempat ia plester karena keterbatasan biaya. Atapnya menahan panas siang dan dingin malam. Jamban belum tersedia.
Tempat buang air dan mandi masih meminjam belas kasih tetangga atau mengandalkan air hujan saat musim datang. Air bersih pun sulit dijangkau.

Setiap hari, Bah Adi mendorong gerobak kecilnya menyusuri pinggir jalan. Ia mencari botol plastik bekas, kardus, atau kaleng untuk dijual. Dalam seminggu, hasil memulung itu hanya terkumpul sekitar Rp100.000.
Uang itu dipakainya untuk membeli beras dan lauk sederhana—cukup untuk ia dan istri bertahan hidup.
Tubuhnya yang renta tentu tak sanggup mengangkut banyak. Namun ia tetap bangkit setiap pagi. Ia tak ingin menyerah, meski dunia seolah memberi beban terlalu berat untuk usia setua itu.
Ia ingin menjaga rumahnya, meski sederhana. Ia ingin menjaga istrinya, meski sakit. Dan ia ingin menjaga harga dirinya, meski dalam himpitan hidup.
Saat malam tiba, Bah Adi duduk di samping istrinya, menggenggam tangan yang lemah dan dingin.
Dalam sepi dan gelap, hanya bisik doa yang terdengar, penuh harap namun tak pernah memaksa. Bah Adi percaya, selama ia masih bisa berjalan, masih bisa mencari, maka harapan belum mati.
Ia tak meminta banyak. Hanya ingin istrinya bisa makan, rumahnya punya jamban, dan mereka bisa mandi dengan air bersih tanpa harus menunggu hujan. Namun harapan itu terlalu lama dibiarkan menunggu.
Bah Adi, dalam kesunyiannya, menyimpan kekuatan tak terlihat. Bukan dari tenaga, tapi dari ketulusan.
Seorang pemulung tua yang tidak hanya mengais barang bekas, tapi juga menjaga sisa-sisa harapan. Dalam hidup yang sederhana, ia menunjukkan arti cinta dan pengorbanan yang sejati.

Rencana Anggaran Biaya (RAB) Pembangunan Jamban Kecil dan Kakus Bah Adi
Pembangunan jamban kecil dan kakus sederhana ini dirancang dengan mempertimbangkan efisiensi biaya, fungsionalitas dasar, dan kondisi rumah Bah Adi yang berdinding batako tanpa plester.
Lokasi berada di Andir, Baleendah, Kabupaten Bandung. Pembangunan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sanitasi dasar yang selama ini belum dimiliki Bah Adi dan istrinya.
Pekerjaan diawali dengan penggalian lubang septic tank secara manual. Biaya untuk jasa gali septic tank ukuran standar keluarga kecil (sekitar 1,5 x 1,5 meter, kedalaman 2 meter) diperkirakan mencapai Rp700.000. Untuk bagian dasar dan dinding septic tank, digunakan pasangan bata merah dan semen. Biaya pembelian batu bata merah sekitar Rp350.000 dan kebutuhan semen sekitar 4 sak atau Rp400.000.
Selanjutnya, dibutuhkan material penutup seperti cor beton dan plat beton sederhana sebagai tutup septic tank, dengan biaya pembelian material pasir, batu split, semen tambahan, dan kawat penguat sebesar Rp500.000.
Untuk bangunan fisik kakus dan jamban, diperlukan dinding batako tambahan dan atap asbes ringan. Biaya batako untuk ukuran bangunan 1,5 x 1,5 meter dengan tinggi 2 meter diperkirakan sekitar Rp300.000. Untuk semen dan pasir sebagai perekat dan plester bagian dalam saja, disiapkan dana sekitar Rp400.000. Atap asbes ringan dan rangka baja ringan kecil diperkirakan sebesar Rp600.000.
Pintu sederhana dari kayu atau triplek kuat dan engsel diperkirakan menghabiskan dana Rp250.000. Sementara kloset jongkok dan pipa saluran ke septic tank diperkirakan senilai Rp350.000.
Untuk pembuatan lantai, digunakan campuran semen dan keramik sederhana di bagian injakan, dengan estimasi biaya Rp300.000. Sistem aliran air menggunakan drum atau toren kecil sebagai penampung air bersih, dengan biaya pembelian toren sekitar Rp450.000. Jalur pipa, keran, dan ember air ditaksir senilai Rp250.000.
Biaya tukang (2 orang) untuk pengerjaan selama 4 hari dihitung Rp100.000 per hari per orang, atau total Rp800.000.
Sebagai cadangan biaya tak terduga, disiapkan dana sebesar Rp300.000 untuk kebutuhan tambahan atau perubahan teknis di lapangan.
Total estimasi RAB pembangunan jamban dan kakus sederhana untuk Bah Adi adalah sekitar Rp5.950.000.
Mari bantu wujudkan jamban dan kakus layak untuk Bah Adi, lansia pejuang yang tetap memulung demi istri tercinta yang sakit.
Donasi Anda adalah harapan bagi Bah Adi agar bisa hidup sehat dan bersih di masa tua yang penuh perjuangan.
Disclaimer : informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik