

Tubuhnya kurus berjalan ringkih tanpa menggunakan alas kaki hingga sejauh hampir 4 km, sambil Ia teriak
“Karangkung… karangkung….. barade kangkung”

lirihnya menawarkan ke setiap orang yang Ia temui di jalan ataupun di gang dengan tangan sambil menenteng ember yang berisi Sayuran hasil dari panen kebun kecilnya di tanah milik Pemerintah, setiap 1 atau 2 bulan sekali Mak Ayum (60 tahun) memanen Sayuran yang Ia tanam dari mulai Kangkung, tomat, bayam, Cengek (cabe rawit) ataupun timun suri tergantung waktu panennya.

Setiap hari Beliau selalu berangkat ke Kebun sempitnya yang hanya berukuran 3x5 meter seusai merawat Kakanya Mak Inok (76 tahun) yang mengalami kelumpuhan sejak 2 tahun yang lalu tanpa diketahui Penyebabnya sampai saat ini. Kegiatan Mak Ayum di kebun sudah pasti merawat tanaman-tanaman sayuran nya yang akan Ia jual nantinya; dari mulai mencangkul, ngored (bersih bersih kebun), menyiram, memumpuk tananman, mememtik Sayuran sampai membersihkan nya hingga Sayuran tersebut siap dijual dan semua itu Ia kerjakan sendiri.

Setelah dari kebun barulah Mak Ayum berkeliling untuk menjual Sayuran yang baru saja Ia petik di Kebun nya tersebut, kadang dari jam 11 siang sampai dengan jam 3 Sore ia berjalan kaki untuk menjual Sayuran nya itu dari mulai Kangkung yang Ia jual perikat cuma 2 ribu, sedangkan cengek setengah plastic harganya hanya 2 ribu dan timunsuri 5 ribu perbuah. Penghasilan Mak Ayum dari berjualan Sayur keliling hanya 30 ribu perhari itupun jika laku semua namun jika tidak terkadang sisa Sayuran nya Ia masak untuk dikomsumsi sendiri dan Mak Ino, atau terkadang Ia bagikan ke para tetangganya, sedangkan Modal harga benih sayuran nya sekitar 30 ribu perbungkus, belum lagi harga Pupuknya sekitar 40 ribuan yang hanya cukup untuk memupuk seminggu, tentu jika dibandingkan antara modal dengan penghasilan nya Mak Ayum merugi!, namun apa boleh buat diusianya yang sudah lanjut usia hanya itu yang bisa Ia lakukan untuk mencari nafkah, ditambah Ia juga marus memberi makan dan merawat Kakanya yakni Mak Ino yang mengalami kelumpuhan.

Mak Ino merupakan Lansia sebatang kara karena ke 4 Anaknya sudah meninggal karena Sakit semua sedangkan Suaminya juga meninggal di Sumatra waktu merantau kesana, sedangkan Kondisi nya sendiri saat ini tidak bisa berjalan, kegiatan keseharianya dibantu oleh adiknya yakni Mak Ayum. Setiap Pagi sebelum berangkat ke kebun Mak Ayum harus menyiapkan segala sesuatu untuk Kakanya tersebut, dari mulai memasakan makananya, menyuapinya, beres-beres rumah, mencuci bajunya kemudian mengganti baju bekas Buang Ari besar atau Kecilnya, jika semua sudah selesai barulah dia pergi ke kebun serta jualan sayur keliling dan pada sore hari setelah selesai berjualan barulah Mak Ayum Kembali merawat Mak Ino seperti memandikan atau mewaslap tubuh Mak Ino dengan menggunakan lap basah, memijit tubuhnya dan yang lainnya.

Sedangkan selama adiknya tidak ada di Rumah, Mak Ino hanya bisa berdiam diri di kamar kalaupun mau ke Toilet, ke dapur atau mau ke depan rumah (teras) jika sedang merasa bosan didalam rumah barulah Ia keluar dengan cara berjalan ngesot atau merangkak dengan lutut sebagai tumpuan dan kedua tangan sebagai penggerak tubuhnya karena Ia tidak memiliki Kursi roda sebagai alat bantu jalan,
“ teu gaduh Korsi roda, da mahal meser ge jang,,,, teu ka peser ahhh….” Ungkap Mak Ino.

Makanya akibat dari Mak Ino harus berjalan seperti itu lutut Kakinya sekarang menjadi bengkak dan menghitam, sedangkan di kedua telapak tangan nya terdapat cukup banyak luka baret, tentu begitu terasa sakit bagi lansia seusia nya.

Mak Ayum pun merasa tidak tega melihat kondisi kakak ke 3 nya seperti itu, Ia pun berharap bisa membelikan nya Kursi Roda agar tak harus berjalan kaki dengan cara mengesot ataupun merangkak sehingga Kaki Mak ino tidak sakit. Namun apalah daya jangankan untuk membeli kursi roda untuk mengobati atau bahkan untuk makan sehari-hari saja Mak Ayum merasa begitu kesulitan, tak jarang Ia pun berpikir keras jika sayur jualan nya tidak Laku Modal dari mana lagi agar besok bisa berjualan lagi.
#Sobatbanyu ternyata masih banyak lansia yang harus berjuang keras dalam menjalani hidupnya ditengah segala keterbatasan, dari mulai keterbatasan fisiknya yang sudah renta dan juga keterbatasan ekonomi, seperti Mak Ayum dan Mak Ino yang saat ini masih berjuang disisa kehidupan nya, Padahal di masa usia nya yang sudah lanjut seharusnya Mereka berdua sudah memiliki kehidupan yang layak.
Maka melalui penggalangan dana ini, Kami Yayasan Banyu Derma Indonesia ingin mengajak #Sobatbanyu semua agar menyisihkan Sebagian rezekinya untuk mengukirkan senyum di wajah para Lansia pejuang nafkah seperti Mak Ayum dan Mak Ino dalam mewujudkan setiap harapan-harapan nya.
Disclaimer: Dana yang terkumpul dalam penggalangan ini akan digunakan untuk Modal Usaha Mak Ayum, Pemenuhan penunjang Kesehatan Mak Ino, Pemenuhan kebutuhan sehari-harinya dan jika terdapat kelebihan dana akan digunakan untuk untuk membantu para penerima manfaat lainnya yang berada dibawah Program Yayasan Banyu Derma Indonesia.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik