“Dulu waktu Emak sakit, gak bisa merawat Emak… sekarang udah besar malah nyusahin Bapak…” ungkap Dilla (20 tahun) penuh dengan penyesalan.

Dilla dulu merupakan seorang Asisten Rumah Tangga (ART) yang merantau jauh ke Jakarta, namun sekarang akibat penyakit tumor di leher bagian kanan depan, ia pun tidak bisa bekerja. Apalagi saat ini, ia baru saja menjalani operasi pengangkatan tumornya, otomatis hanya bisa beristirahat di rumah sambil sesekali membantu mempersiapkan jualan cimol bapaknya seperti membuat adonan cimol atau membentuk adonan cimol.
Tumornya itu sudah 7 tahun ia derita, namun baru 8 bulanan ia melakukan pengobatan karena ketiadaan biaya, itupun pengobatan penyakitnya setelah Dilla memiliki BPJS, awalnya hanya berupa bentol dengan rasa gatal, ia pikir itu hanya benjolan biasa saja, namun setelah 7 tahun ia membiarkan benjol tersebut kini benjol itu pun berubah menjadi benjolan yang sangat besar sekali, dan baru 2 minggu yang lalu setelah 4x pemeriksaan sampai dokter mendiagnosa jika Dilla mengidap penyakit tumor tidak ganas Nodul Thyroid Sinistra dengan Takikardia (benjolan yang muncul pada kelenjar tiroid di leher) barulah dilakukan operasi pengangkatan tumor di lehernya yang beratnya lebih dari 5 kg dengan durasi operasi selama 6 jam.

Setelah melakukan operasi pengangkatan Tumor bukan berarti kondisi Dilla sudah membaik, namun akibat dari pengangkatan tumor tersebut lehernya harus menerima 30 jahitan yang setiap 2x sehari harus rutin dibersihkan sebab jika tidak dibersihkan khawatir akan mengalami infeksi pada luka bekas operasinya, selain itu dampak dari operasi tersebut saat ini pita suaranya mengalami gangguan sehingga mengakibatkan Ia kehilangan Suara.
Saat Dilla berbicara suaranya pun begitu sangat kecil sekali, membuat apa yang diucapkan tidak jelas, belum lagi jika makan harus pelan-pelan dalam mengunyah, untuk menelan pun terasa sakit dan untuk minum pun tidak bisa sekaligus sebab kalau menelan sekaligus ia akan tersedak dan itu rasanya sangat sakit sekali.

URGENITAS: Untuk memperbaiki pita suara akibat tumor, Dilla diharuskan segera melakukan pengobatan lanjutan pada Lehernya, sebab jika tidak segera dilakukan pengobatan maka pita suara akan rusak sehingga akan mengakibatkan suara serak, parau, terengah-engah, atau bahkan kehilangan suara, selain itu juga dapat menyebabkan kesulitan menelan, batuk, serta masalah pernapasan dan itu tentunya akan menimbulkan masalah Kesehatan yang baru bagi Dilla. Namun untuk melakukan pengobatan tersebut tentunya membutuhkan biaya yang begitu besar, apalagi katanya jika biaya operasi pita suara tidak dapat tercover sepenuhnya oleh BPJS, sedangkan orang tua Dilla yakni Pak Usup (51 tahun) hanyalah seorang penjual cimol keliling yang nyambi menjadi OB di salah satu Sekolah Dasar di daerah sekitar rumahnya.

Pak Usup yang sudah masuk usia lanjut harus berjalan kaki sejauh 3 Km sambil menanggung gerobak cimolnya dengan berat bisa sampai 20 Kg, padahal kondisi kesehatan Pak Usup sendiri sudah 10 tahun mengalami kelainan berupa pembengkakan pada kelaminnya,
“kalau orang disini nyebutnya turun bro,,,, ya semenjak Istri saya baru meninggal sakit liver aja kelamin saya membengkak Pak….” ujar Pak Usup.

Padahal penderita pembengkakan pada kelamin tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat atau mengangkat beban berat karena akan berdampak pada kelamin yang membengkak dan itu terasa sakit sekali pada penderitanya.

Sedangkan setiap hari, beliau mulai jualan cimol dengan mengangkat gerobaknya yang berat, hal itu Ia lakukan setelah bekerja sebagai petugas kebersihan atau OB di salah satu Sekolah Dasar (SD) dari jam 6 Pagi sampai dengan jam 2 siang kemudian dilanjut jam 2 sampai jam 5 sore bahkan jika cimolnya belum habis beliau bisa berjualan sampai sekitar jam 7 malam, dari penghasilannya sebagai petugas kebersihan sekolah ia mendapatkan upah sekitar 20 ribu/harinya sedangkan penghasilan bersih dari berjualan keliling Ia hanya bisa mendapatkan sekitar 30 ribu/harinya,

tentunya dengan penghasilan segitu hanya cukup untuk memenuhi makan sehari-hari Pak Usup beserta keluarganya, padahal besar sekali harapan Pak Usup ingin melihat anak perempuannya itu bisa sembuh seperti dulu, begitupun dengan Dilla, ia ingin sekali bisa cepat sembuh agar bisa bekerja lagi untuk membantu orang tua satu-satunya yakni Pak Usup dalam menyembuhkan kelainan pada kelaminnya.

“Dulu pernah mau di operasi namun 2x batal, yang pertama gara-gara almarhum bapak saya yang diharuskan segera di operasi, kemudian yang kedua gara-gara anak saya Dilla yang diharuskan segera melakukan operasi tumornya, jadi saya mengalah karena meski dibayar BPJS tapi kan operasional dan kebutuhan selama pengobatan tidak ditanggung pak, nanti kalau dua-duanya yang di operasi terus siapa yang membiayai operasional dan kebutuhannya, ini juga waktu Dilla di operasi sampai selesai dibantu oleh pihak Kepala Sekolah tempat saya bekerja,,” ungkap Pak Usup.
#SobatBanyu, Dilla hanya berharap bisa segera sembuh agar bisa membawa Pak Usup sembuh dari pembengkakan kelaminya, begitupun dengan Pak Usup yang rela melakukan apapun demi anaknya Dilla agar segera sembuh dari penyakit tumornya apalagi saat ini anaknya tersebut kehilangan suaranya.
Maukah kalian bantu meringankan perjuangan Pak Usup dan Dilla agar bisa mewujudkan harapan mereka? Dengan cara berdonasi melalui galang dana ini.
Alirkan Amal, dengan Nyata bersama Banyu Derma!.
Disclaimer: Dana yang terkumpul dalam penggalangan ini, akan digunakan untuk pemenuhan biaya Pengobatan, Akomodasi Pengobatan, Pemenuhan penunjang kesehatannya terutama yang tidak tercover oleh BPJS dan jika terdapat kelebihan dana, akan digunakan untuk untuk membantu para penerima manfaat lainnya yang berada dibawah Program Yayasan Banyu Derma Indonesia.