

Seorang ibu bernama Bu Rani, hatinya hancur setiap kali melihat putranya, Azka, yang baru berusia tujuh tahun, meringis kesakitan.
"Kalau Azka batuk, dadanya sering terasa sakit," bisik Bu Rani dengan lirih, "Terus selalu sesak, Azka pasti nangis. Ibu hanya bisa mengusap dadanya pakai kayu putih agar dadanya terasa hangat." Lanjutnya. Sebuah cerita tentang perjuangan tak kenal lelah, air mata, dan harapan yang tak pernah padam.

Semua berawal saat Azka berusia tiga tahun. Sebuah kecelakaan kecil, terjatuh dari sepeda, yang berubah menjadi mimpi buruk. Tulang belakang Azka mulai membengkok, semakin hari semakin parah. Bu Rani membawa Azka ke rumah sakit, alhasil Diagnosa dokter mengguncang kehidupan mereka, yang menyatakan jika Azka mengidap TB Tulang Akut.
Dengan segenap upaya Bu Rani mencoba yang terbaik, dari mulai Uang pinjaman sampai dengan harta benda satu-satunya yang Beliau dijual demi pengobatan Azka selama enam bulan. Namun, biaya yang begitu besar membuat pengobatan itu tetap harus terhenti.

"Kata dokter, Azka harus berobat rutin," ujar Bu Rani sambil terisak, "Kalau tidak, tulangnya bisa rusak dan keropos, bahkan bisa lumpuh. Tapi mau bagaimana lagi, saya bingung tidak ada biaya."
Akibatnya kini, punggung Azka semakin melengkung, menekan paru-parunya. Pertumbuhan dan berat badannya terhambat, tak seperti anak-anak seusianya.

"Mah, kenapa Azka harus begini, bisa sembuh lagi enggak, Mah? Azka malu sama teman-teman suka diolok-olok. Mamah, kalau ada uang Azka pengen ke dokter," pinta Azka dengan suara pilu. Kalimat-kalimat itu tentu bagai pisau yang mengiris hati Bu Rani.

Bu Rani hanya seorang diri memikul beban yang sangat berat. Selain merawat Azka, ia juga harus mengurus kedua kakak dan adik Azka. Suaminya jarang memberi nafkah, membuat Bu Rani harus berjuang sendirian. Setiap hari, Bu Rani menjajakan keripik keliling milik orang lain, dengan penghasilan tak lebih dari tiga puluh ribu rupiah. Uang itu harus dibagi untuk makan, biaya sekolah anak-anak, dan menabung untuk pengobatan Azka yang tak kunjung cukup.
Seringkali, Bu Rani terpaksa berhutang, dan bantuan dari tetangga serta saudara menjadi penyelamat di kala lapar melanda
"Saya sekarang lagi kebingungan cari biaya kontrakan, sudah empat bulan menunggak," keluh Bu Rani. "Belum lagi untuk biaya sekolah anak-anak banyak yang harus dibeli. Kadang saya juga sedih anak-anak jarang dikasih uang jajan untuk sekolah." Lanjutnya.

Meski hidup dalam serba kekurangan, Bu Rani tidak pernah menyerah. Setiap pagi hingga sore, ia menjajakan dagangannya, seringkali sambil menggendong Azka yang mudah sesak dan sakit,
"Azka tidak bisa ditinggal, mau tidak mau harus diajak kalau jualan," ujarnya. "Kalau Azka sesak dan sakit terpaksa harus saya gendong."

Rasa lapar dan lelah tak pernah dihiraukan Bu Rani. Ia berjuang demi anak-anaknya, dengan keyakinan yang begitu tinggi kepada Tuhan. Bu Rani percaya, Allah akan memberikan yang terbaik atas segala ikhtiarnya.
Ia punya satu harapan besar dalam hidupnya yakni melanjutkan pengobatan Azka hingga sembuh total, dan memiliki usaha sendiri agar tidak lagi harus berjualan keliling. Bu Rani memang kuat, namun ia tak bisa berjuang sendirian.
#SobatBanyu, mari kita temani perjuangan Bu Rani. Hingga kapan Azka harus menahan rasa sakitnya? Dan sampai kapan Bu Rani harus memikul beban hidup yang begitu berat ini sendirian? Setiap uluran tangan kecil dari kita, bisa menjadi cahaya harapan yang sangat berarti bagi keluarga ini.
Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk penunjang kesehatan Azka, Modal usaha Bu Rani, dana pendidikan Anak-anak Bu Rani, Penunjang kebutuhan bulanan keluarga Bu Rani. Selain itu jika terdapat kelebihan dana akan di gunakan untuk implementasi program dan para penerima manfaat lainnya yang berada di bawah naungan Yayasan Banyu Derma Indonesia.
informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
![]()
Belum ada Fundraiser