ImageAdik dan Kakak, Difabel yang Tidak Pernah Menyerah...
Image

Adik dan Kakak, Difabel yang Tidak Pernah Menyerah

Rp 31.786.606 terkumpul dari Rp 75.000.000
389 Donasi sudah berakhir

Penggalang Dana

Image

Di sebuah rumah sederhana yang sudah mulai rapuh dimakan usia, tinggal dua saudara yang hidupnya telah lama terikat oleh kesedihan, luka masa lalu, dan keteguhan hati yang luar biasa. Mereka adalah Bu Evi (50 tahun) dan adiknya, Yudi (32 tahun). Bagi banyak orang, rumah adalah tempat untuk pulang dan beristirahat. Tapi bagi mereka berdua, rumah adalah medan pertempuran sunyi melawan kesakitan dan keterbatasan yang nyaris tak berujung.

Bu Evi bukanlah wanita biasa. Di usia yang sangat belia, tepatnya saat masih duduk di bangku SD, ia mengalami sebuah kecelakaan tragis. Ia terseret mobil sejauh 35 meter, hingga tulang kakinya patah di tiga bagian. Bukan hanya tubuhnya yang rusak, tapi pendengarannya pun ikut hilang—telinga kanannya kini tak lagi bisa mendengar apa pun. Ia sempat koma selama 40 hari, di antara hidup dan mati. Semua luka itu masih membekas hingga kini, membuatnya tak bisa berjalan dengan normal, dan harus menahan nyeri setiap kali ia melangkah menjajakan kerupuk keliling demi sesuap nasi.

Namun kisah pilu tak berhenti di situ. Adiknya, Yudi, juga mengalami musibah serupa. Saat Yudi berusia 12 tahun, ia terjatuh dan mengalami cedera serius. Awalnya ia masih bisa berjalan, meski hanya dengan bantuan tongkat. Tapi pada usia 15 tahun, ia kembali terjatuh. Dan kali ini lebih parah—tubuhnya dari perut ke bawah lumpuh total. Sejak hari itu, Yudi hanya bisa berbaring, nyaris tanpa daya. Sudah 17 tahun lamanya, ia hidup dalam kondisi seperti itu, bergantung penuh pada kakaknya, Bu Evi, untuk segala kebutuhan hidup, makan, bersih diri, hingga buang air.

Setiap tahun, Yudi harus menjalani operasi pengangkatan batu di bagian punggungnya—biaya yang jelas tak bisa ditanggung oleh Bu Evi seorang diri yang hanya berjualan kerupuk. Bahkan, saluran pembuangan tubuh Yudi pun sudah tak berfungsi, dan ia harus menjalani operasi besar di bagian perut untuk membuat saluran buatan, agar tubuhnya tetap bisa membuang kotoran. Semua itu menyakitkan, fisik maupun batin.

Dalam sebuah percakapan yang menggetarkan hati, Yudi pernah berkata dengan suara pelan dan mata yang berkaca-kaca,

    “Jika suatu saat kami harus berpisah, aku ingin aku duluan. Karena kalau kakakku tiada duluan, aku tidak tahu siapa yang akan mengurusku... Kakakku adalah hidupku.”

 

 

Kantor Yayasan Wahdah Inisiatif Kebaikan

Jl. Graha Jati No.5 RT001/RW013 Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kode Pos 40216

Informasi & Konfirmasi Donasi

+62 877-7717-71745 ( Call Center ).

Disclaimer : Informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.

Baca selengkapnya ▾

  • June, 20 2025

    Campaign is published

Widodo Lestari7 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 25.292
Sobat Baik7 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 100.016
Sobat Baik7 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 15.399
Sobat Baik7 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 15.955
Ev7 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 15.222

Fundraiser (2)

kurir donasi
Berhasil mengajak 332 orang untuk berdonasi.
Rp  26.863.649
Pejuang Kebaikan
Berhasil mengajak 19 orang untuk berdonasi.
Rp  1.309.258
Mari jadi Fundraiser dan berikan manfaat bagi program ini.

Doa-doa orang baik (145)

Sobat Baik7 bulan yang lalu
Ya Allah bukakan pintu rejeki mereka dan berikan kesehatan baginya
Image
1 Aaminn
+1
Sobat Baik7 bulan yang lalu
Tuhan Yesus memberkati. Amin
Image
1 Aaminn
+1
Retno siwi nuraheni7 bulan yang lalu
Semoga segera diberi kesembuhan Ya Allah🤲
Image
1 Aaminn
+1
Sobat Baik7 bulan yang lalu
Ya Allah sehatkan dan sembuhkan AA Yudi dan kakaknya, jg sembuhkan dan sehatkanlah hamba..aamiin
Image
1 Aaminn
+1
Sobat Baik7 bulan yang lalu
Smoga cpt sembuh
Image
1 Aaminn
+1
Bagikan melalui:
✕ Close