"Kalau saya pergi lebih dulu, siapa yang akan jaga Ginajar?" — Kisah Seorang Ayah yang Bertahan Demi Anaknya
Di sudut sebuah kampung sederhana, hidup seorang pria tua bernama Pak Makmur, 65 tahun, dengan tubuh yang mulai membungkuk dan langkah kaki yang tidak lagi tegap. Setiap hari, ia duduk bersila di lantai rumah kecilnya, tangannya sibuk menganyam limbah tali plastik bekas menjadi keranjang, tikar, dan perlengkapan rumah tangga lainnya.

Bukan karena hobi. Bukan pula karena ia menikmati pekerjaannya. Ia bekerja karena harus. Karena ada satu alasan yang membuatnya tak bisa berhenti berjuang—anak semata wayangnya, Ginajar.
Ginajar kini berusia 19 tahun, namun tubuhnya tak berkembang seperti remaja pada umumnya. Sejak kecil, ia menderita kelumpuhan total. Ia tidak bisa berjalan, tidak bisa duduk tegak, bahkan tidak bisa berbicara. Seluruh hidupnya bergantung penuh pada sang ayah, dari makan, buang air, berpindah posisi, hingga sekadar menggaruk tubuhnya yang gatal.
Bagi sebagian orang, merawat seorang anak dengan kondisi seperti itu selama hampir dua dekade bisa menjadi beban luar biasa. Tapi bagi Pak Makmur, Ginajar adalah segalanya. Meskipun ia harus bangun lebih pagi untuk mengganti popok, tidur di lantai yang dingin di samping anaknya, atau bekerja sambil menahan nyeri di punggung, ia tetap melakukan semuanya tanpa keluhan.

Namun tetap saja, usia dan keterbatasan fisik mulai menunjukkan batas. Pak Makmur kini sering merasa pusing, pandangannya mulai kabur, dan tangannya gemetar saat menganyam. Ia tahu waktu tidak lagi berpihak padanya. Dan setiap malam, saat ia memandangi wajah Ginajar yang tertidur, satu ketakutan besar menghantam batinnya:
"Kalau saya mati duluan, siapa yang akan urus Ginajar? Siapa yang akan beri makan, ganti bajunya, rawat tubuhnya? Dia bahkan nggak bisa bilang 'lapar' kalau nggak saya yang perhatikan"
Rumah yang mereka tinggali pun sangat sederhana, berdinding kayu rapuh dan beratap seng berkarat. Tidak ada kasur medis, tidak ada ventilasi memadai, bahkan toilet mereka pun berada di luar rumah. Rumah ini jelas tidak layak untuk anak difabel seperti Ginajar.

Setiap harinya, hasil anyaman Pak Makmur hanya menghasilkan sekitar Rp 20.000 – 30.000, dan itu pun tidak selalu pasti. Uang itu harus dibagi untuk makan, beli popok, sabun, dan keperluan perawatan harian Ginajar. Untuk berobat? Hampir tak terjangkau. Seringkali, jika Ginajar demam atau mengalami luka karena terlalu lama terbaring, Pak Makmur hanya bisa mengolesi dengan minyak gosok seadanya.
Selama 19 tahun, tidak ada yang menggantikan tangan Pak Makmur. Ia tak pernah menitipkan Ginajar ke siapa pun. Ia menolak tawaran menitipkan ke panti. "Saya yang bawa dia ke dunia ini. Saya juga yang harus jaga sampai akhir," katanya.

Kantor Yayasan Wahdah Inisiatif Kebaikan
Jl. Graha Jati No.5 RT001/RW013 Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kode Pos 40216
Informasi & Konfirmasi Donasi
+62 877-7717-71745 ( Call Center ).
Disclaimer : Informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
Baca selengkapnya ▾