
🌸 “Aku takut kehilangan Ibu…” — Keyla Natasya, 13 tahun 🌸
Di balik senyum polos seorang remaja bernama Keyla Natasya, ada kisah pilu yang tak banyak orang tahu. Gadis kecil berusia 13 tahun ini duduk di bangku SMP, namun hari-harinya jauh berbeda dengan teman-teman sebayanya. Jika anak-anak lain bisa pulang sekolah dengan riang untuk bermain atau belajar, Natasya justru harus membantu ayahnya berjualan gorengan di pinggir jalan desa demi sekadar bertahan hidup.
Ayahnya, Wardana (35 tahun), adalah seorang penjual gorengan sederhana dengan penghasilan pas-pasan, sering kali tidak cukup bahkan untuk makan sehari-hari. Sedangkan ibunya, Sri Yanti (29 tahun), kini terbaring lemah karena kanker ganas di bagian mulut dan tenggorokannya. Penyakit itu membuat tubuhnya kurus kering, namun wajahnya tampak membengkak. Luka di mulutnya semakin parah, bahkan terkadang mengeluarkan darah.
Natasya berkisah dengan suara lirih, “Aku takut kehilangan Ibu… aku ingin bisa berkumpul lagi sama Ibu seperti dulu, sebelum sakit.” Kata-kata sederhana yang membuat siapa pun yang mendengarnya akan terenyuh.
💔 Penderitaan yang Berlapis
Beberapa tahun lalu, keluarga kecil ini juga harus menanggung luka yang sangat dalam. Adik Natasya meninggal saat lahir karena air ketuban ibunya kering. Tragisnya, peristiwa itu terjadi di saat yang sama ketika Sri Yanti sedang diserang kanker ganas. Kondisinya kian memburuk karena mengalami pendarahan hebat. Di tengah perjuangan melawan maut itu, ia bahkan sempat mengalami mati suri dua kali — selama 15 detik dan 10 detik — sebelum akhirnya sadar kembali.
Sejak hari itu, keluarga kecil ini terus berjuang dengan sisa-sisa tenaga. Wardana tetap berjualan gorengan meski hasilnya sangat kecil, sementara Natasya tumbuh dengan beban yang terlalu berat untuk usianya. Ia bukan hanya seorang anak, tapi juga pengganti tangan ibunya. Ia sering membantu menjaga ibunya, membersihkan luka di mulutnya, hingga memijat tubuh sang ibu yang penuh rasa sakit.
🌧️ Jika Tidak Dibantu, Harapan Itu Bisa Hilang
Tanpa pengobatan yang layak, kondisi Sri Yanti semakin memburuk. Tubuhnya hanya bisa terbaring di tempat tidur hingga bagian punggungnya melepuh. Jangankan berdiri, untuk duduk pun ia sudah tak sanggup. Nafasnya semakin berat, dan darah dari mulutnya membuat Natasya ketakutan setiap kali melihat ibunya tersedak.
Natasya tahu, ayahnya sudah berjuang sekuat tenaga, tetapi penghasilan dari berjualan gorengan sama sekali tidak mencukupi untuk biaya pengobatan kanker yang sangat mahal. Natasya pun sering membantu ayahnya sepulang sekolah. Namun, ia sadar, semua itu hanya sedikit dari kebutuhan besar untuk menyelamatkan ibunya.
🌱 Harapan Seorang Anak untuk Ibunya
Meski masih kecil, Natasya punya mimpi sederhana: ia ingin melihat ibunya sehat kembali, bisa duduk di sampingnya, menemaninya belajar, dan bercengkerama bersama keluarga kecil mereka seperti dulu. Ia ingin ibunya kembali bisa tersenyum tanpa rasa sakit.
Kini, Natasya dan keluarganya sangat membutuhkan uluran tangan kita semua. Bantuan kita bisa menjadi penyelamat bagi ibunya, sekaligus harapan bagi Natasya agar tidak kehilangan sosok yang paling ia cintai.
📌 Saat ini, mereka membutuhkan:
✅ Biaya pengobatan kanker untuk Ibu Sri Yanti
✅ Bantuan pangan dan kebutuhan harian
✅ Perawatan medis dan peralatan kesehatan di rumah
✅ Biaya pendidikan untuk Natasya agar ia bisa terus sekolah
✅ Modal tambahan untuk usaha kecil ayahnya agar mereka bisa bertahan hidup
📣 Sahabat Inisiatif, Mari Kita Ringankan Derita Keluarga Ini
💛 Klik DONASI SEKARANG untuk membantu menyelamatkan nyawa Ibu Sri Yanti dan masa depan Natasya
💛 Bagikan cerita ini agar semakin banyak orang yang peduli
💛 Jadilah bagian dari gerakan kebaikan yang nyata mengubah hidup mereka
“Nafas Ibu boleh lemah, tapi harapan Natasya untuk melihat ibunya sehat kembali jauh lebih kuat. Mari kita bersama-sama menjaga harapan itu tetap menyala.”
📌 Disclaimer Penggunaan Dana:
Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk biaya pengobatan Ibu Sri Yanti, kebutuhan harian, biaya pendidikan Natasya, serta dukungan untuk usaha ayahnya. Jika dana yang terkumpul melebihi kebutuhan, kelebihannya akan disalurkan kepada penerima manfaat lain di bawah naungan Yayasan Wahdah Inisiatif Kebaikan, secara amanah, adil, dan transparan.
Informasi dan konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.