
"Saya nggak butuh kaya... Saya cuma ingin Fajar bisa hidup layak, walau nanti saya udah nggak ada."
– Bu Ai, ibu pejuang yang bertahan demi anak semata wayangnya
Di balik kesunyian gang sempit sebuah kampung kecil, langkah kaki seorang ibu terdengar pelan, seret, sambil mendorong sebuah kursi roda tua yang sudah berkarat. Suaranya berderit, bannya kempes sebelah, dan duduk di atasnya seorang bocah lelaki bernama Fajar, 10 tahun, yang tubuhnya tampak kecil dan kaku, dengan tatapan kosong ke langit. Ia tak bisa berjalan, tak bisa bicara lancar, dan tak bisa berdiri sendiri. Ia hanya bisa diam, kadang tersenyum samar ketika ibunya memanggil namanya pelan. Selebihnya, hari-harinya diisi oleh ketergantungan total pada ibunya: Bu Ai.
Bu Ai, 35 tahun, adalah potret nyata dari ketegaran yang terus diuji tanpa jeda. Ia bukan hanya ibu rumah tangga. Ia adalah perawat, guru, pelindung, penghibur, bahkan "dunia" itu sendiri bagi Fajar—anak semata wayang yang lahir dengan Cerebral Palsy, gangguan sistem saraf yang membuat Fajar tak bisa berkembang seperti anak-anak seusianya. Ia tak mampu makan sendiri, mengganti pakaiannya sendiri, bahkan mengucap rasa sakit pun tak bisa ia sampaikan dengan kata.
Namun bukan hanya kondisi Fajar yang membuat kisah ini begitu memilukan. Bu Ai juga harus berjuang sendirian, karena sejak lima tahun lalu, suaminya pergi meninggalkan mereka begitu saja. Tanpa pesan, tanpa kabar, tanpa tanggung jawab. Tiga tahun terakhir, suaminya benar-benar hilang tanpa jejak. Tak ada uang nafkah, tak ada telepon, bahkan sekadar menanyakan kabar Fajar pun tidak pernah.
"Waktu dia pergi, saya sempat berpikir mungkin dia butuh waktu. Tapi sampai sekarang... Fajar bahkan nggak tahu siapa ayahnya. Kalau saya sebut namanya, Fajar cuma diam. Mungkin di benaknya, kata 'ayah' itu cuma dongeng," ucap Bu Ai, sembari menyeka air matanya dengan ujung kerudung yang sudah lusuh.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua, Bu Ai berjualan kerupuk keliling. Setiap pagi ia bangun lebih awal untuk mempersiapkan dagangan seadanya, lalu mendorong Fajar dalam kursi roda usang sambil membawa dagangannya dalam kantong plastik di sisi kiri dan kanan. Kadang, tangan kirinya mendorong kursi roda, tangan kanannya mengangkat kerupuk. Jalannya pelan, berat, tapi tak pernah terhenti.
Pendapatannya pun sangat kecil, hanya sekitar Rp 20.000 sampai Rp 30.000 per hari. Itu pun kalau dagangannya habis. Dari uang itu, ia harus membagi untuk makan, beli popok, sabun, air bersih, dan kadang menabung sedikit demi sedikit untuk obat Fajar jika tiba-tiba demam atau kejang.
"Kalau dia sakit... saya cuma bisa nangis. Saya nggak punya siapa-siapa, nggak punya uang buat bawa ke rumah sakit. Pernah sekali saya pinjam uang, tapi sekarang malah punya utang yang belum lunas sampai sekarang,” ucapnya dengan suara tertahan.
Kursi roda khusus cerebral palsy yang digunakan Fajar adalah pemberian dari tetangga yang iba. Kursi itu sudah goyah, tidak stabil, dan membahayakan. Tapi Bu Ai tidak punya pilihan lain. Tak hanya tak mampu membeli kursi baru, untuk membeli kebutuhan harian pun harus ditakar. Terkadang mereka hanya makan nasi dengan garam atau mie instan, jika tak ada kerupuk yang laku.
Di usia 10 tahun, Fajar belum pernah merasakan terapi yang layak. Ia belum bisa berdiri. Sendi-sendi tubuhnya makin kaku. Jika tidak segera ditangani, kondisi Fajar akan semakin memburuk, bahkan bisa memicu komplikasi serius yang membahayakan nyawanya.
Dan Bu Ai tahu... waktunya sebagai seorang ibu pun tidak abadi.
"Kalau saya sudah nggak ada... siapa yang akan urus Fajar? Dia bahkan nggak bisa bilang lapar... nggak bisa bilang sakit. Siapa yang tahu kalau dia butuh sesuatu? Saya takut banget..."
🌟 Mari Hadir Menjadi Harapan untuk Bu Ai dan Fajar
Sahabat Inisiatif, Bu Ai adalah simbol dari cinta tak bersyarat. Ia rela menahan lapar, menahan tangis, menahan nyeri demi satu tujuan: agar anaknya tetap hidup. Kini saatnya kita bergandengan tangan, menjadi bagian dari harapan itu, menjadi pelindung kedua bagi Fajar yang tak berdaya.
Bantuan dari Anda akan digunakan untuk:
📣 Jangan Biarkan Bu Ai Berjuang Sendiri
📍 Klik tombol Donasi Sekarang
📍 Bagikan cerita ini di media sosial Anda
📍 Jadilah bagian dari keluarga besar yang menjaga masa depan Fajar
“Cinta seorang ibu bisa menjaga seorang anak seumur hidup. Tapi cinta dari kita semua bisa menjaga anak itu, bahkan setelah ibunya tiada.”
📌 Disclaimer:
Seluruh donasi yang terkumpul akan digunakan secara transparan untuk memenuhi kebutuhan harian, perawatan, dan masa depan Fajar. Jika terdapat kelebihan dana, maka akan digunakan sebagai dana simpanan jangka panjang untuk Fajar atau untuk penerima manfaat lain di bawah pengawasan Yayasan Wahdah Inisiatif Kebaikan, dengan asas transparansi dan keadilan distribusi.
Kantor Yayasan Wahdah Inisiatif Kebaikan
Jl. Graha Jati No.5 RT001/RW013 Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kode Pos 40216
Informasi & Konfirmasi Donasi
+62 877-7717-71745 ( Call Center ).
Disclaimer : informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.