“Aku Ingin Sembuh… Demi Rifky dan Sifa” — Kisah Abah Koko
Namaku Koko, usiaku 60 tahun. Enam tahun lalu, sebuah kejadian kecil yang tak pernah kusangka, mengubah seluruh jalan hidupku.
Aku masih ingat jelas hari itu. Aku sedang bekerja memotong bambu, ketika ujung bambu yang tajam menancap di wajahku. Awalnya kupikir hanya luka biasa. Sedikit perih, sedikit berdarah, tapi pasti akan sembuh. Aku tidak pernah menyangka, luka itu justru menjadi awal penderitaan panjang.
Luka yang Membesar Menjadi Penyakit yang Menggerogoti Wajahku

Beberapa minggu setelah kejadian, lukanya membengkak. Rasanya panas, gatal, dan nyeri. Karena tidak punya biaya untuk berobat, aku hanya mengolesinya dengan obat seadanya. Tapi semakin hari, rasa sakitnya semakin menusuk, hingga membuatku sulit tidur.
Lalu, luka itu berubah… kulit wajahku mulai berlubang. Mata kiriku hancur dan hilang. Tulang pipi kiri lenyap, kulitnya cekung membentuk rongga gelap. Garis luka itu membentang dari atas alis, menuruni sisi pipi, hingga ke dekat telinga dan bibir. Kadang nanah mengalir, kadang darah menetes tanpa henti. Baunya membuatku malu keluar rumah.
Aku tahu ini tumor ganas. Dokter pernah bilang, tanpa operasi dan perawatan intensif, penyakit ini akan semakin merusak wajahku… dan mungkin merenggut nyawaku. Tapi apa daya? Biaya pengobatannya sangat besar, sementara aku sudah tak mampu lagi bekerja.
Dua Anak yang Menjadi Alasan untuk Bertahan

Di tengah sakit yang tak kunjung reda, ada dua alasan mengapa aku masih membuka mata setiap pagi: Rifky dan Sifa.
Rifky, anak bungsuku, berusia 10 tahun. Ia duduk di kelas 3 SD. Badannya kecil, tapi hatinya besar. Meski masih anak-anak, ia sudah belajar membantu keluarga. Sepulang sekolah, Rifky mengantarkan jajanan buatan ibunya ke rumah-rumah tetangga, atau kadang mengumpulkan botol plastik untuk dijual. Ia sering berkata,
“Ayah, nanti kalau Rifky punya banyak uang, Ayah bisa berobat ya?”
Kalimat itu membuatku tersenyum—dan sekaligus menangis di dalam hati.
Sifa, kakaknya, berusia 13 tahun, kelas 6 SD. Ia lebih mengerti kesulitan kami. Sepulang sekolah, ia membantu ibunya mencuci pakaian tetangga, menyapu halaman orang, atau menjaga anak kecil demi mendapat upah beberapa ribu rupiah. Sifa jarang mengeluh. Tapi setiap kali aku melihatnya menunduk diam di pojok kamar sambil mengusap air mata, hatiku hancur.
Aku tahu, mereka berdua takut. Takut kalau suatu hari nanti, ayah yang mereka cintai tidak lagi ada.
Harapan yang Sederhana
Aku tidak meminta rumah mewah, mobil, atau harta berlimpah. Yang aku minta hanyalah kesempatan untuk sembuh, agar aku bisa terus mendampingi mereka hingga dewasa. Aku ingin mengantarkan Rifky lulus sekolah Aku ingin melihat Sifa mengenakan toga kelulusannya. Aku ingin duduk di teras rumah bersama istri, sambil melihat anak-anakku tersenyum karena masa depan mereka cerah.
Tapi semua itu hanya akan jadi mimpi… jika penyakit ini terus menggerogoti tubuhku.
Sahabat, Aku Memohon…
Hari ini, aku mengetuk pintu hati sahabat semua Tanpa bantuan, aku tidak akan sanggup melawan penyakit ini sendirian. Biaya operasi dan pengobatan sangat besar. Kebutuhan sehari-hari pun terus berjalan. Sementara aku, sudah tidak bisa bekerja lagi.
Setiap rupiah yang sahabat sisihkan akan digunakan untuk:
- Biaya operasi dan perawatan tumor wajah
- Transportasi bolak-balik ke rumah sakit
- Kebutuhan hidup sehari-hari selama masa pengobatan
- Pendidikan Rifky dan Sifa
- Pendampingan sosial dari tim yayasan
Mungkin bagi sahabat, bantuan itu hanya sebagian kecil dari rezeki. Tapi bagi aku dan keluarga, itu bisa menjadi penyelamat nyawa.
Inilah Kesempatan untuk Menjadi Bagian dari Perjuangan Kami
Bayangkan… beberapa tahun ke depan, Rifky dan Sifa bercerita bahwa ada orang-orang baik yang membantu menyelamatkan ayah mereka. Orang-orang yang bahkan tidak pernah mereka temui secara langsung, tapi rela menyisihkan rezekinya demi kebaikan. Sahabat bisa menjadi bagian dari cerita itu.
Mari kita lawan penyakit ini bersama. Mari kita selamatkan ayah untuk dua anak kecil yang masih sangat membutuhkan pelukan dan bimbingannya.
📌 Klik tombol DONASI SEKARANG dan sisihkan sebagian rezeki sahabat. 💌 Bantu bagikan kisah ini, agar semakin banyak hati yang tergerak untuk menolong.
Karena setiap detik yang berlalu tanpa pengobatan, penyakit ini semakin merenggut kekuatan Abah Koko. Dan setiap bantuan yang datang, semakin mendekatkan Abah Koko pada kesembuhan.
📜 Penggunaan Dana
Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk:
- Biaya operasi dan perawatan tumor wajah
- Transportasi bolak-balik ke rumah sakit
- Kebutuhan hidup sehari-hari selama masa pengobatan
- Pendidikan Rifky dan Sifa
- Pendampingan sosial dari tim yayasan
Jika ada dana berlebih, akan disalurkan kepada penerima manfaat lain melalui Yayasan Wahdah Inisiatif Kebaikan.
Disclaimer : informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
Baca selengkapnya ▾