

Di usia 78 tahun, saat tubuhnya sudah mulai renta dan lelah, Abah Ahmid tidak punya pilihan untuk beristirahat. Setiap hari, tepat pukul 8 pagi, ia melangkah keluar dari rumahnya di Sariwangi, Tasikmalaya, untuk menjemput rezeki. Berbekal semangat yang tersisa, Abah berjualan es doger hingga sore hari demi menyambung hidup keluarganya.

Harga es doger yang Abah jual tergolong sangat murah, hanya Rp10.000 untuk 3 cup. Bisa dibayangkan betapa berat perjuangan Abah untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari segelas es yang ia jajakan.

Jika semua es dogernya habis terjual tanpa sisa, keuntungan bersih yang dibawa pulang Abah hanya berkisar Rp20.000 hingga Rp30.000 per hari. Namun kenyataannya, sering kali esnya tersisa dan Abah terpaksa pulang dengan tangan kosong.

Abah Ahmid tinggal bersama istri dan anak bungsunya. Keluarga ini bahu-membahu untuk bertahan hidup. Istri Abah turut membantu sebisa mungkin dengan bekerja serabutan, terkadang menjadi buruh tani jika ada tetangga yang membutuhkan tenaganya. Sedangkan anak bungsu Abah mengabdi sebagai seorang guru honorer, yang kita tahu penghasilannya pun sangat terbatas dan jauh dari kata cukup untuk menopang kebutuhan satu keluarga.
Mari sisihkan sebagian rezeki kita dan bantu ringankan beban Abah Ahmid.
Disclaimer : informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik