Di ujung sebuah desa terpencil, berdirilah gubuk kecil milik Nenek Fatimah, seorang lansia yang hidup sebatang kara. Atap rumbia yang mulai bocor dan dinding reyot menjadi saksi keteguhan beliau menjalani hari-hari tuanya. Tubuhnya yang bungkuk dan rapuh kini hanya mampu beristirahat di kursi kayu usang, menatap cahaya matahari pagi yang masuk dari celah jendela rumahnya.
Melalui koordinasi dengan tim pusat, relawan setempat, dan komunikasi langsung dengan Nenek Fatimah, tim Relawan Mulia menyiapkan penyaluran bantuan berupa santunan tunai dan paket sembako. Setelah semua persiapan matang, kami langsung berkunjung ke rumah beliau untuk menyerahkan bantuan secara langsung.
Saat menerima bantuan, Nenek Fatimah tampak sangat bahagia dan terharu. Dengan suara lembut, beliau mengucapkan rasa syukurnya kepada para donatur dan tim yang telah peduli terhadap kondisinya. Momen itu kami abadikan dalam dokumentasi foto dan video, bukan hanya sebagai bentuk pertanggungjawaban, tetapi juga sebagai pengingat betapa berartinya kehadiran kita bagi mereka yang membutuhkan.
Bagi tim relawan, penyaluran ini menjadi pengalaman penuh makna. Alhamdulillah, kami merasa bersyukur karena diberi kesempatan untuk ikut meringankan beban hidup Nenek Fatimah dan menjadi bagian kecil dari kebahagiaannya di hari tua.







