

hidup seorang diri diusia 103 tahun, bah Idik berjuang untuk bisa makan dan ingin hidup layak.
biasa dipanggil Bah Idik kini usianya menginjak 103 Tahun, namun 1 abad usianya tak berbanding lurus dengan kesejahteraannya. ia maish harus tetap mengandalkan tangan keriputnya hanya untuk bertahan hidup berjualan demi bisa mencari makan.
sehari-hari ia menjual tisu dan tinggal di sebuah kontrakan yang sangat sederhana di sebuah kontrakan dalam gang kecil. Dari 1 bungkus tisu yang bisa ia jual, ia hanya mengambil untung 2-3rb dan rata-rata penghasilannya tak lebih dari 20rb saja per hari
—”Hidup dari jualan tisu sekarang gak tentu dapat penghasilan, kadang rame kadang nggak ada pembeli satupun”

Dengan tangan yang sering gemetaran karena faktor usia, Bah Idik rutin berjalan menjajakan tisu jualannya di pinggir jalan yang tak begitu jauh dari rumahnya, namun jika ia merasa tak enak badan ia tak akan berangkat berjualan dan hanya mengandalkan hasil jualan pada hari sebelumnya.

Abah punya anak sebetulnya namun sudah tinggal jauh dan sudah menikah sehingga punya tanggung jawabnya sendiri, kondisinya yang sama-sama terbatas pun membuatnya tak bisa membantu kondisi abah dimasa tuanya.

Sekarang Kondisi Abah sangat meprihatinkan, bertahan hidup dari hasil berkeliling jualan tisu dan tak jarang kontrakannya menunggak dan sering tak makan karena hasil berjualan tak tentu. Di usia yang menginjak 103 tahun lebih ini, Abah harus bertahan hidup.
#Orangbaik Yuk ringankan kehidupan Bah Idik membangun kehidupannya lebih layak di usia senja dengan donasi.
Disclaimer : informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik