

Ada yang lebih menderita, tapi tidak seberisik kita,
Tanpa Ayah, Pagi sekolah, siang cari nafkah, dan waktu istirahat merawat ibu yang 3 tahun menderita tumor.

"Setiap langkahnya membawa jualan, fikiran anaknya cuma satu: “Aku tak mau kehilangan Ibu..."
Di usianya yang baru menginjak kelas 3 SMP, dimana anak-anak sebayanya fokus belajar dan bermain, Anaknya harus memikul beban yang berat sejak sang ayah meninggal dunia, ia hanya memiliki ibunya, Ibu Siti. Namun kini, tawa sang ibu perlahan sirna digantikan bisikan keputusasaan akibat tumor ganas yang menggerogoti tubuhnya.

Hari demi hari, perut Ibu Siti terus membesar hingga melampaui batas normal. Rasa sakit yang tajam seperti ditusuk-tusuk tak lagi bisa disembunyikan. Tubuhnya yang dulu tegar kini makin kurus dan lemah, tertahan beban berat di perutnya.
Kondisinya kian kritis. Dokter menyatakan bahwa tumor ini berisiko sangat tinggi memicu komplikasi fatal—bahkan kematian—jika tidak segera diobati dan dioperasi.

Melihat ibunya terbaring kesakitan, Anaknya tak bisa tinggal diam. Tanpa rasa malu, seusai pulang sekolah (bahkan sering kali harus membagi waktunya di sela-sela jam belajar), tangan kecilnya merapikan dagangan. Ia menyusuri jalanan, menjajakan dagangannya keliling demi mendapatkan sepundi rupiah.
"Hasil jualan tidak seberapa, Kak... kadang cuma dapat puluhan ribu. Cuma cukup buat beli makan seadanya dan sisanya diecer buat ongkos ke rumah sakit. Tapi obat dan biaya operasi yang mahal sekali, saya bingung harus cari ke mana lagi..." tutur Anaknya dengan mata berkaca-kaca.
Sebagai seorang janda tanpa penghasilan tetap, Ibu Siti kini sepenuhnya bergantung pada perjuangan anak tunggalnya yang masih SMP ini. Namun, sekeras apa pun anak ini berjuang sendirian, tabungan kecil mereka tak akan pernah cukup untuk menutupi biaya tindakan medis, transportasi, dan kebutuhan nutrisi darurat yang harus dipenuhi segera.
#OrangBaik, waktu Ibu Siti sangat terbatas. Kita tak bisa biarkan seorang anak SMP berjuang sendirian menyelamatkan nyawa ibunya.
Disclaimer: Informasi dan konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik