

Lantai kayunya lapuk dan berbunyi setiap kali diinjak. Dinding tripleknya berlubang. Atapnya bocor hingga bercak hitam besar membekas tepat di area tempat imam memimpin shalat. Namun setiap hari, 49 kepala keluarga di pelosok Garut bertaruh nyawa dengan tetap beribadah dan bersujud di dalamnya.

Masjid Nur Hidayah berdiri di Kampung Cilukut, Talegong, Garut satu-satunya masjid bagi warga setempat. Untuk sampai di sana, Tim Amal Mulia harus menempuh perjalanan ojek 1,5 hingga 2 jam melewati jalan rusak dan licin, dengan biaya Rp200.000 sekali jalan. Jauh dari kota, jauh dari perhatian.

Kondisi di dalam masjid jauh lebih memprihatinkan bahkan hampir ambruk. Ruangan hanya berukuran 5×5 meter jamaah harus berdesakan saat shalat berjamaah maupun pengajian rutin. Toilet masjid sudah ambruk, padahal baru dibangun sekitar lima tahun lalu dari swadaya warga dengan material seadanya. Karpet shalat pun sudah rusak dan tidak layak pakai.

Di tengah semua keterbatasan itu, ada Bapak Didin Nursidik imam berusia 50 tahun yang juga berprofesi sebagai petani tidak pernah berhenti menjaga masjid ini tetap hidup. Setiap hari ia memimpin shalat berjamaah. Setiap pekan ia membina sekitar 20 santri dan anak-anak agar tetap dekat dengan Al-Qur'an. Bukan karena mudah, tapi karena ia tahu masyarakatnya membutuhkannya.

Mereka tidak meminta banyak. Hanya sebuah masjid yang tidak bocor saat hujan, lantai yang tidak berbunyi saat sujud, toilet yang bisa dipakai untuk berwudhu, dan karpet yang layak untuk beribadah.
Sahabat, mari bantu bangun kembali Masjid Nur Hidayah agar menjadi rumah ibadah yang aman, nyaman, dan kokoh bagi seluruh warga Kampung Cilukut.
Disclaimer : informasi dan Konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik