Tangisannya terus terdengar sambil memeluk ibu tercinta yang terus menerus muntah darah. Tak berselang beberapa lama ibunya meninggal dunia karena pembuluh darahnya pecah.

Pada hari itu, ibunya jatuh sakit. Sendi melihatnya dengan mata kepala sendiri, bagaimana ibu tercintanya yang selalu kuat dan tegar, kini harus terbaring lemah di tempat tidurnya sambil terus menerus muntah darah.
"Ibu bangun buuuu.... bangun....Ayo bu bangun." - Sambil terus mengoyak-ngoyak tubuh ibu tercintanya.
Sendi hanya bisa menangis dengan sekuat tenaga, sambil membangunkan ibu tercintanya yang sudah terkulai kaku. Ibunya pergi meninggalkannya seorang diri untuk selama-lamanya. Jeritan dan tangisan Sendi pun terus terdengar yang membuat tetangga terus bermunculan.

Kini Sendi harus hidup seorang diri dengan segala keterbatasannya. Terlebih ia terlahir sangat istimewa, atau orang memanggilnya idiot. Air matanya terus mengalir, mengingat kenangan indah bersama ibunda tercinta.

Kurangnya kasih sayang sang ayah sejak bayi membuat perkembangan psikis Sendi semakin terganggu, apalagi kini didepan matanya terbaring ibu tercinta yang sudah terkujur kaku terbungkus kain kafan. Seorang ibu yang selalu memberikan kehangatan, kenyamanan dan perlindungan untuk dirinya.

Kini Sendi harus hidup seorang diri tanpa sosok ayah dan ibu di tengah keterbatasannya. Air matanya senantiasa membasahi pipi mungilnya tanpa henti sambil terus memanggil almarhum ibu tercinta.
Hari-harinya dijalani dengan penuh kesepian. Semuanya ditelan pahit-pahit seorang diri, sambil membawa beragam jajanan, Sendi pun terus berjalan menawarkan dagangannya ke setiap anak yang ditemuinya. Berharap ada anak yang mau membeli.
"Aku salah apa kak? Sampai semuanya pergi meninggalkan aku. Kalau aku salah maafin aku." - Ucapnya sambil meneteskan air mata.

Walaupun tubuhnya lelah dengan menahan rasa sakit di kaki yang tiada Tara. Ia terus berjalan menjajakan dagangannya, bahkan sampai ketiduran. Dan seringkali ia pun menghabiskan waktunya sambil keliling jajakan dagangan dengan mampir ke makam ibunya hanya sekedar untuk melepas rindu.
Sahabat kebaikan, kita bisa menemani sendi sekaligus menggantikan peran kedua orang tuanya dengan menyisihkan sebagian rezeki yang kita miliki saat ini. Agar Sendi bisa tersenyum bahagia.
Kantor Yayasan Amanah Kebaikan Insani
Jln Kebon Kopi Gg.Pak Majja Rt.03/08, Cibereum, Cimahi Selatan
Informasi & Konfirmasi Donasi
Whatsapp Center : +62 878-2244-6583
Izin Lembaga
• AKTA PENDIRIAN yayasan Amanah Kebaikan Insani no 1, tanggal 31 Maret 2022
• Keputusan menteri hukum dan HAM RI. No. AHU-0007925.AH.01.04.Tahun 2022
Baca selengkapnya ▾