
Di usianya yang sudah 76 tahun, Abah Rokim seharusnya bisa beristirahat dengan tenang. Namun, kenyataan hidup memaksanya turun ke jalanan setiap pagi. Dengan tubuh yang kian ringkih dan langkah yang sering sempoyongan, Abah memikul karung untuk mengumpulkan barang bekas dari kampung ke kampung.

Perjuangan fisik Abah sungguh menyayat hati. Tak jarang, karena kondisi fisiknya yang sudah tidak kuat, Abah terjatuh di pinggir jalan. Namun, ia selalu memaksakan diri untuk bangkit kembali. Ia tahu, jika karungnya tidak terisi, maka piring nasinya pun akan kosong.
Yang lebih memilukan adalah hasil dari tetes keringatnya. Setelah mengumpulkan rongsok dari pagi hingga sore selama satu minggu penuh, Abah hanya mengantongi uang Rp20.000 saja. Angka yang sangat tidak sebanding dengan rasa lelah dan risiko yang ia hadapi di jalanan.

Semenjak sang istri meninggal, Abah hidup sebatang kara dalam perjuangan ini. Ia tidak ingin merepotkan anaknya yang kondisinya pun sama sulitnya. Di setiap sujudnya, Abah hanya berharap bisa merasakan sedikit kebahagiaan dan ketenangan di sisa usianya tanpa harus takut kelaparan besok pagi.
Mari kita muliakan sisa usia Abah Rokim agar ia tak lagi harus kepanasan di jalanan.Mari berikan kado masa tua yang indah untuk Abah Rokim. Sedikit bantuanmu adalah kebahagiaan besar bagi Abah.
Disclaimer: Informasi dan konten yang tertulis di halaman program/campaign ini adalah milik lembaga yang menggalang dana dan tidak mewakili Forhumanity.id.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik