
Di usia 70 tahun, saat sebagian orang menikmati masa istirahat dan pensiun, tetapi Abah Nimin masih setia mendorong gerobak cilor kelilingnya menyusuri jalanan. Gerobak yang sudah lusuh itu bukan sekadar alat jualan namun adalah saksi perjuangan hidup yang tak pernah berhenti.
Setiap hari, Abah berjalan pelan dari satu sudut kampung ke sudut lainnya. Kadang ia mangkal berjam-jam, menatap jalan yang sepi, berharap ada pembeli yang datang. Tak jarang hingga waktu pulang tiba, hanya beberapa bungkus cilor yang terjual. Selebihnya? Abah bawa pulang.
Jika adonan tak habis, Abah mengolahnya menjadi lauk makan untuk dirinya dan sang istri. Bukan karena ingin berhemat, tapi karena memang tak ada uang untuk membeli lauk. Penghasilan yang tak menentu sering kali membuat Abah kebingungan. Bahkan tak jarang modalnya habis karena banyak pembeli yang berhutang dan belum membayar.
Di rumah sederhana, Abah tinggal bersama istrinya. Anak-anaknya sudah tak tinggal bersama, dan kondisi mereka pun tak jauh berbeda, sama-sama berjuang untuk bertahan hidup.
Mari sisihkan sebagian rezeki dan bantu ringankan beban Abah Nimin.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik