Kondisi Banjir Sumatra Terbaru yang Mulai Surut

Kondisi banjir Sumatra dikabarkan telah mulai surut. Namun bukan berarti masalah saudara kita di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat telah selesai. Dampak bencana banjir bandang masih jadi PR kita bersama. Tumpukan kayu masih berserakan di mana-mana, bangunan masih diselimuti lumpur, listrik belum sepenuhnya menyala dan masalah kesehatan mulai muncul. 

Banjir Sumatra telah terjadi sejak tanggal 24 November 2025 akibat siklon tropis senyar di Selat Malaka sehingga memicu hujan deras yang terus menerus mengguyur sebagian pulau Sumatra. Seketika, kehidupan saudara kita di Sumatra berubah karena tersapu oleh banjir bandang. Harta benda lenyap, bahkan hanya untuk bersih-bersih dan makan pun mereka saat ini kesulitan.

Kondisi Terbaru Banjir Sumatra

Kondisi terbaru pasca bencana banjir Sumatra. Dokumentasi: For Humanity.

Kondisi terbaru banjir Sumatra berdasarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana banjir Sumatra telah menelan korban sebanyak 1.071 orang meninggal dunia, 185 orang hilang, 7 ribu orang terluka dan 52 kabupaten/kota terdampak. Adapun kerusakan infrastruktur dan fasilitas publik dengan data dari BNPB berikut ini:

  • Rumah: 147.236 rusak
  • Fasilitas Umum: 1,6 ribu rusak
  • Fasilitas Kesehatan: 219 rusak
  • Fasilitas Pendidikan: 967 rusak
  • Rumah ibadah: 434 rusak
  • Gedung/Kantor: 290 rusak
  • Jembatan: 145 rusak

Data tersebut adalah gabungan dari 3 provinsi yaitu Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat dan masih terus berubah seiring perbaruan secara berkala. 

Selain itu, kondisi listrik di wilayah Sumatra yang terdampak banjir belum sepenuhnya menyala sehingga sebagian wilayah di Sumatra masih gelap dan belum bisa menyala setiap saat. Hingga tanggal 11 Desember 2025, jumlah listrik di Aceh yang baru menyala sebanyak 36%, Sumatra Utara 99,8% setelah longsor susulan dan Sumatra Barat telah menyala penuh sejak 5 Desember 2025 (Republika, 2025).

Masalah kesehatan pun muncul menambah beban saudara kita di Sumatra yang sedang mulai berbenah pasca bencana banjir. Berdasarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit dan diare menjadi penyakit terbanyak yang dialami masyarakat bencana banjir Sumatra. Jika dibagi berdasarkan provinsi terdapat beberapa kasus pada periode 25 November – 12 Desember 2025:

  1. Provinsi Aceh
  • ISPA: 5.701 kasus
  • Penyakit kulit: 4.885 kasus
  • Diare: 875 kasus
  • Influenza-Like-Illness (ILI): 765 kasus
  • Demam: 217 kasus
  • Suspek penyakit menular seperti campak, dengue dan pertusis ditemukan dalam jumlah terbatas
  1. Sumatra Utara
  • ISPA: 7.682 kasus
  • Penyakit kulit: 8.675  kasus
  • Diare: 1.474 kasus
  • Influenza-Like-Illness (ILI): 890 kasus
  • Suspek demam tifoid: 600 kasus
  • Supek dengue dan campak dilaporkan dalam jumlah sangat kecil
  1. Sumatra Barat
  • ISPA: 1.239 kasus
  • Hipertensi: 655 kasus
  • Demam: 463 kasus
  • Flu: 310 kasus
  • Gangguan gastrointestinal 268 kasus
  • Gangguan kesehatan lainnya seperti pegal-pegal, rematik, radang lambung dan sakit kepala
Kondisi terbaru pasca bencana banjir Sumatra. Dokumentasi: For Humanity.

Peningkatan kasus penyakit pasca bencana banjir Sumatra diperkirakan dapat berlangsung hingga 200 hari ke depan (Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama).

Mengingat saudara kita di Sumatra masih hidup dengan penuh keterbatasan, oleh karena itu kehadiran kita untuk mereka sangat dinantikan. Bencana banjir Sumatra menjadi tanggung jawab kita bersama untuk saling bantu saudara setanah air. Bersama, kita berikhtiar untuk memulihkan Sumatra secara menyeluruh dan menghadirkan cahaya bagi para penyintas bencana banjir Sumatra. Yuk bantu mereka bersama Forhumanity!

Temukan dan Hubungi Kami di :

© For Humanity. All rights reserved